Selasa, 18 Desember 2012

PENILAIAN PENDIDIKAN KARAKTER BANGSA (hasil diklat PKB di P4TK PKn dan IPS)


A.   PENDAHULUAN

Pembahasan penilaian Pendidikan Karakter Bangsa (PKB)  dalam tuntutan silabusnya murni penilaian pendidikan karakter bangsa. Disisi lain nilai-nilai PKB diintgegrasikan pada semua mata pelajaran, sehingga disamping membahas penilaian PKB sesuai dengan silabusnya, untuk memenuhi kebutuhan penilaian tiap mata pelajaran yang mendapatkan integrasi nilai-nilai PKB; maka makalah ini juga akan membahas sedikit tentang penilaiaan utamanya sesuai dengan tuntutan Permendiknas Nomor 20 Tahun 2007 tentang Standar Penilian Pendidikan.

A.   PENGERTIAN PRINSIP DAN KRITERIA PENILAIAN PKB
1.    Pengertian
a.    Pengertian penilain untuk mata pelajaran.
Penilaian sosiologi dimaknai sebagai proses atau cara untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran, untuk memantau kemajuan, melakukan perbaikan pembelajaran, dan menentukan keberhasilan belajar peserta didik dalam  pelaksanaan pembelajaran di kelas.

b.    Pengertian penilai PKB
Pada  dasarnya,  penilaian  terhadap  pendidikan  karakter  dapat  dilakukan terhadap  kinerja  pendidik,  tenaga  kependidikan,  dan  peserta  didik.  Kinerja pendidik atau  tenaga kependidikan dapat dilihat dari berbagai hal  terkait dengan dengan  berbagai  aturan  yang melekat  pada  diri  pegawai  ,  antara  lain:  (1)  hasil kerja:  kualitas  kerja,  kuantitas  kerja,  ketepatan  waktu  penyelesaian  kerja, kesesuaian  dengan  prosedur;  (2)  komitmen  kerja:    inisiatif,  kualitas  kehadiran,
kontribusi  terhadap  keberhasilan  kerja,  kesediaan  melaksanakan  tugas  dari pimpinan;  (3)  hubungan  kerja:  kerja  sama,  integritas,  pengendalian  diri, kemampuan mengarahkan dan memberikan inspirasi bagi orang lain.
Kegiatan  pendidik  dan  tenaga  kependidikan  yang  terkait  dengan
pendidikan  karakter  dapat  dilihat  dari  portofolio  atau  catatan  harian.  Portofolio  atau  catatan  harian  dapat  disusun  dengan  berdasarkan  pada  nilai-nilai  yang dikembangkan, yakni: jujur, bertanggung jawab, cerdas, kreatif, bersih dan sehat, peduli,  serta  gotong  royong  Selain  itu,  kegiatan mereka  dalam  pengembangan dan  penerapan  pendidikan  karakter  dapat  juga  diobservasi.  Observasi  dapat dilakukan  oleh  atasan  langsung  atau  pengawas  dengan  bersumber  pada  niali- nilai tersebut untuk mengetahui apakah mereka sudah melaksanakan hal itu atau tidak.
 Selain  penilaian  untuk  pendidik  dan  tenaga  kependidikan,  penilaian
pencapaian  nilai-nilai  budaya  dan  karakter  juga  dapat  ditujukan  kepada  peserta didik  yang didasarkan pada  beberapa  indikator. Sebagai  contoh,  indikator untuk nilai  jujur  di  suatu  semester  dirumuskan  dengan  “mengatakan  dengan sesungguhnya  perasaan  dirinya  mengenai  apa  yang  dilihat/diamati/ dipelajari/dirasakan”  maka  pendidik mengamati  (melalui  berbagai  cara)  apakah yang dikatakan seorang peserta didik itu jujur mewakili perasaan dirinya. Mungkin saja  peserta  didik  menyatakan  perasaannya  itu  secara  lisan  tetapi  dapat  juga dilakukan secara tertulis atau bahkan dengan bahasa tubuh. 
   Model catatan anekdotal (catatan   yang dibuat pendidik ketika melihat adanya perilaku yang berkenaan dengan nilai yang dikembangkan)  selalu  dapat  digunakan  pendidik. Selain  itu  pendidik  dapat  pula memberikan  tugas  yang  berisikan  suatu  persoalan  atau  kejadian  yang memberikan  kesempatan  kepada  peserta  didik  untuk  menunjukkan  nilai  yang dimilikinya.  Sebagai  contoh,  peserta  didik  dimintakan  menyatakan  sikapnya terhadap  upaya menolong  pemalas, memberikan  bantuan  terhadap  orang  kikir, atau hal-hal lain yang bersifat bukan kontroversial sampai kepada hal yang dapat mengundang konflik pada dirinya.
 Dari hasil pengamatan, catatan anekdotal,  tugas,  laporan, dan sebagainya pendidik dapat memberikan kesimpulan/pertimbangan  tentang pencapaian suatu indikator  atau  bahkan  suatu  nilai.  Kesimpulan/pertimbangan  tersebut  dapat dinyatakan  dalam    pernyataan  kualitatif  dan memiliki makna  terjadinya    proses pembangunan karakter  sebagai berikut ini. 
BT:   Belum Terlihat, apabila peserta didik belum memperlihatkan    tanda-  tanda  awal  perilaku  yang  dinyatakan  dalam  indikator  karena  belum  memahami makna dari nilai itu (Tahap Anomi)
MT:  Mulai Terlihat ,  apabila peserta didik sudah mulai   memperlihatkan  adanya tanda-tanda  awal  perilaku  yang  dinyatakan  dalam  indikator  tetapi  belum konsisten  karena  sudah  ada  pemahaman  dan  mendapat  penguatan lingkungan terdekat  (Tahap Heteronomi)
MB:  Mulai Berkembang,  apabila peserta didik sudah  memperlihatkan  berbagai tanda perilaku yang dinyatakan dalam indikator dan mulai konsisten,  karena selain  sudah  ada  pemahaman  dan  kesadaran  juga  mendapat    penguatan  lingkungan  terdekat    dan  lingkungan  yang  lebih  luas  (Tahap Sosionomi)
MK: Membudaya,   apabila peserta didik terus menerus memperlihatkan perilaku yang  dinyatakan  dalam  indikator  secara    konsisten  karena  selain  sudah   ada  pemahaman  dan  kesadaran  dan  mendapat  penguatan  lingkungan terdekat   dan  lingkungan yang  lebih  luas   sudah  tumbuh kematangan moral (Tahap Autonomi)

Indikator berfungsi bagi pendidik sebagai kriteria untuk memberikan pertimbangan apakah  perilaku  untuk  nilai  tersebut  telah menjadi  karakter  peserta  didik. Untuk mengetahui  bahwa  suatu    satuan  pendidikan  formal  dan  nonformal  itu  telah melaksanakan pembelajaran yang mengembangkan karakter perlu dikembangkan instrumen assessment khusus
Selanjutnya,  assessment  dilakukan  dengan  observasi,  dilanjutkan  dengan monitoring  pelaksanaan  dan  refleksi.  Assessment    untuk  pendidikan  karakter  bermuara  pada:  (1)    berperilaku    jujur  sehingga  menjadi  teladan;  (2) menempatkan diri secara proporsional dan bertanggung  jawab; (3) berperi  laku dan  berpenampilan  cerdas  sehingga  menjadi  teladan;  (4)  mampu  menilai  diri sendiri (melakukan refleksi diri) sehingga dapat bertindak  kreatif; (5) berperilaku  peduli    sehingga  menjadi  teladan;  (6)  berperilaku    bersih  sehingga  menjadi teladan; (7) berperilaku  sehat sehingga menjadi teladan; (8) berperilaku  gotong royong  sehingga menjadi teladan.
2.    Prinsip- prinsip Penilaian
Penilaian hendaknya dilakukan secara menyeluruh terhadap semua materi yang tercantum dalam pokok bahasan dan sub pokok bahasan yang diajarkan kepada peserta didik tanpa mengabaikan materi pelajaran tertentu yang dinilai kurang penting.
a.    Berkelanjutan
Untuk mengetahui kelemahan dan kelebihan peserta didik, maka penilaian perlu dilakukan secara terus menerus, berkelanjutan. Penilaian sebaiknya dilaksanakan setiap akhir pelajaran, dan dalam waktu tertentu dilaksanakan dalam cakupan materi yang lebih luas.
b.    Obyektif
Penilaian dengan melaksanakan pengukuran menggunakan tes hendaknya bersifat obyektif. Maksudnya hasil pengukuran tersebut akan mendapatkan biji yang sama walaupun dikoreksi oleh pendidik lain.
c.    Sahih (valid)
Penilaian dengan menggunakan alat ukur tes, tes yang dibuat harus memenuhi rambu-rambu tertentu, sehingga sebagai alat ukur benar-benar sesuai dengan tujuan yang dirumuskan.
d.    Terpercaya (reliable)
Penilaian yang melaksanakan pengukuran dengan menggunakan tes, maka tes tersebut harus dapat mengukur kemampuan peserta didik secara mantap.
e.    Edukatif
Hasil akhir penilaian hendaknya merupakan kebanggaan atau tantangan bagi peserta didik. Peserta didik yang mendapatkan nilai baik dapat memacu prestasi belajarnya, dan peserta didik yang mendapatkan nilai kurang, sebagai pendorong untuk lebih giat belajar.
f.     Berorientasi pada tujuan
Penilaian dilaksanakan sesuai dengan tujuan yang telah dirumuskan. Dalam kurikulum 2004 istilah tujuan dapat dari kompetensi dasar atau secara operasional merujuk pada indikator.
g.    Kebermaknaan
Penilaian hendaknya bermakna bagi kehidupan peserta didik. Bermakna dalam arti memberikan pengalaman positif kepada peserta didik, tidak menjadikan peserta didik trauma, apalagi menjadi stress.
h.    Kesesuaian
Bahan yang dikumpulkan adalah bahan yang berhubungan dengan tugas utama, pembelajaran yang dijalani.
3.    Kriteria Penilaian
a.         Kriteria  penilain mata pelajaran
Secara umum dikenal dua acuan penilaian yaitu Penilaian Acuan Norma (PAN) dan Penilaian Acuan Patokan (PAP).
1)        Penilaian Acuan Norma (PAN). Secara singkat dapat dikatakan bahwa PAN adalah penilaian yang dilakukan dengan mengacu pada norma kelompok, nilai yang diperoleh oleh peserta didik  dibandingkan dengan peserta didik yang lain yang termasuk dalam kelompok itu. Biasanya disebut kelompok adalah dalam satu kelas. Yang dimaksud dengan “norma” adalah adalah kepantasan  yang lulus dan yang tidak lulus. PAN sudah ditinggalkan dan acuan yang digunakan dalam sistem penilaian untuk mata pelajaran sosiologi menggunakan PAP.
2)        Pendekatan Penilaian Acuan Patokan (PAP)
Seiring ditetapkan Peraturan Menteri (Permen) Nomor 22 tahun 2006 tentang Standar Isi (SI), Permen No. 23 Tahun 2006 Tentang Standar Konpetensi Lulusan (SKL) serta Permen 24 Tahun 2006 tentang pelaksanaan SI dan SKL berimplikasi terhadap kriteria penilaian, yang sebelumnya beracuan norma, beralih ke acuan patokan dengan memperhatikan pelayanan individual sehingga menuntut perhatian dan keseriusan dari guru. Penilaian beracuan patokan dengan layanan individual dikenal juga dengan istilah belajar tuntas (mastery Learning) yang artinya peserta didik menguasai sepenuhnya materi pembelajaran dan telah mencapai kriteria ketuntasan minimal (KKM). Pengembangan belajar tuntas diawali oleh John B. Carroll pada tahun 1963 berdasarkan penemuannya yaitu “Model of School Learning” yang kemudian dirubah oleh Benyamin S. Bloom menjadi model belajar yang lebih operasional. Selanjutnya oleh James H. Block model tersebut lebih disempurnakan lagi.        Menurut Carroll, bakat atau pembawaan bukanlah kecerdasan alamiah, melainkan jumlah waktu yang diperlukan oleh peserta didik  untuk menguasai suatu materi pelajaran tertentu. Benyamin melaksanakan konsep belajar tuntas itu ke dalam kelas melalui proses belajar mengajar pelaksanaaannya sebagai berikut:

B.   MODEL PENILAIAN NILAI-NILAI PKB
1.    Model Penilaian dengan Catatan Anecdotal
Model 1
Model catatan anekdotal (catatan   yang dibuat pendidik ketika melihat  adanya perilaku yang berkenaan dengan nilai yang  dikembangkan) 

Sekolah: .....
Kelas:
Semester:
Nama:
Nilai yang diamati




Nilai yang diamati




Nilai yang diamati




Nilai yang diamati











BT
MT
MB
MK

BT
MT
MB
MK

BT
MT
MB
MK

BT
MT
MB
MK
Nilai yang diamati
BT
MT
MB
MK

Religius




Cinta tanah air




Orientasi masa depan




Peduli lingkungan




Disiplin






BT
MT
MB
MK

BT
MT
MB
MK

BT
MT
MB
MK

BT
MT
MB
MK

BT
MT
MB
MK

Kerja keras




Bersahabat/komunikatif




Gemar membaca




Tanggung jawab




Menghargai prestasi






Model 2
Nama siswa
Tanggal
Kegiatan yang dilakukan
Nilai-nilai PKB
Sesuai/melanggar nilai-nilai PKB*
BT
MT
MB
MK
Aditya








Andika








Anita








Zainal








Zainal








Dst.









     Hasil  catatan anekdotal ini misi utamanya adalah mengembangkan kepribadian sesuai nilai-nilai PKB. Sehingga catatan anecdotal apabila ada waktu sharing antara guru dan peserta didik untuk meningkatkan pelaksanaan nilai-nilai PKB, dan mengurangi atau bahkan menhilangkan catatan yang melanggar nilai-nilai PKB akan menjadi pembelajaran yang berharga untuk peserta didik
2.    Model Penilian dengan Penugasan.
Tugas:
Lakukan pengamatan sosial, dan wawancara  terhadap :
a.    Pemilik kos-kosan, serta Tata letak ruang hunian/kos  mahasiswa, atau karyawan  di Malang raya
b.    Petani sayuran,  atau buah-buahan, atau tanaman hias, dengan fokus pengembangan pertanian dan nilai ekonominya.
c.    Pengunjung daerah wisata, fokus perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai masyarakat Malang raya.
Instrumen Penilaian Penugasan
Dalam penilaian tugas dalam bentuk proyek setidaknya ada 3 (tiga) hal yang perlu dipertimbangkan yaitu:
a)    Kemampuan pengelolaan
Kemampuan peserta didik dalam memilih topik, mencari informasi dan mengelola waktu pengumpulan data serta penulisan laporan.
b)    Relevansi.
Kesesuaian dengan mata pelajaran, dengan mempertimbangkan tahap pengetahuan, pemahaman dan keterampilan dalam pembelajaran.
c)       Keaslian
Tugas yang dilakukan sebagai proyek  peserta didik sehingga harus merupakan hasil karyanya, dengan mempertimbangkan kontribusi guru berupa  petunjuk dan dukungan terhadap proyek peserta didik.
Berdasarkan rancangan pembelajaran dengan tema keragaman suku bangsa di Indonesia,  maka proyek yang akan dilakukan oleh peserta didik meliputi:
a)    Macam-macam kelompok dalam masyarakat yang diteliti
b)    Macam-macam suku bangsa dalam masyarakat yang diteliti
c)    Faktor pendorong terjadinya integrasi (persatuan) masyarakat yang diteliti.
d)    Penyebab timbulnya konflik dalam masyarakat yang diteliti
e)    Tingkat partisipasi masyarakat dalam pembangunan

                  Mata Pelajaran         : IPS
Kelas/Semester        : VII/1
Nama tugas                       :  melakukan penamatan dengan memilih salah satu tema sebagai berikut:
a.    Pemilik kos-kosan, serta Tata letak ruang hunian/kos  mahasiswa, atau karyawan  di Malang raya
b.    Petani sayuran,  atau buah-buahan, atau tanaman hias, dengan fokus pengembangan pertanian dan nilai ekonominya.
c.    Pengunjung daerah wisata, fokus perilaku yang tidak sesuai dengan nilai-nilai masyarakat Malang raya.
d.    Pedagang/produsen konsumen/distributor komuditas ekonomi diwilayah pariwisata,pendidikan atau industri.
Alokasi Waktu          : 1 bulan

Nama Peserta didik : 
No
Aspek *

Skor (1 – 10)
1.
Perencanaan:
a. Mempersiapkan instrumen penggalian data
b. Penggalian informasi melalui referensi
c. Pembagian tugas



2.
Pelaksanaan
a. Kemampuan melakukan observasi
b. Kerjasama
c. Kedisiplinan
d. Pengolahan data
e. Penarikan kesimpulan





3.
Laporan tugas/Proyek
a.      Sistematika penulisan
b.      Kualitas sumber data
c.      Pengolahan data
Penarikan kesimpulan




4.
Presentasi
a.      Kemampuan berkomunikasi
b.      Media presentasi
c.      Penampilan ( antusias, percaya diri, tegas)


Total Skor

*)Aspek yang dinilai disesuaikan dengan proyek.  Contoh di atas menampilkan 15 aspek yang dinilai.  Penghitungan nilai dengan menggunakan rumus:

                            ∑ Skor perolehan
Nilai =                                                  X  100
                      Skor Maksimal     

3.    Model Penilaian dengan Pengamatan
a.    Pengamatan terhadap pelestarian lingkungan untuk mengurangi global warming (pemanasan global)
Contoh instrumen penilaian terhadap pelestarian lingkungan untuk mengurangi global warming (pemanasan global)
Nama
siswa
Tanggal
kegiatan
Menanam pohon
Memisahkan sampah sesuai karakteristiknya dan membuang di tempat sampah
Mengambil sampah di kelas dan halaman sekolah untuk dimasukan di tempat sampat
Merusak tanaman hias
Membersihkan sampah pada aliran sungai /gorong-gorong/selokan
Menggunakan barang untuk kegiatan hidup yang berasal dari bahan tidak dapat direduksi (plastik, karet, stere foam)
Nilai-nilai karaktere
BT/MT/MB
/MK*
Dita









Deti









Durus









Dini









Dian









Dudi









Dsb.










b.    Pengamatan terhadap pelaksanaan diskusi di kelas.
Contoh format penilaian Presentasi hasil diskusi kelompok
Mata Pelajaran         : IPS
Kelas/Semester        : VII
Judul Diskusi                       : Tribina Cita Malang Raya
Nama anggota kelompok: 
No
Nama Siswa
A s p e k
Jumlah
Skor
Nilai-nilai PKB
BT
MT
MB
MK
Komunikasi
Sistematika penyam paian
Wawasan
Kebera nian
antusias








































Keterangan Skor :
      Komunikasi                                         Sistematika Penyampaian:
1 = Tidak dapat berkomunikasi                             1 = Tidak sistematis
2 = Komunikasi agak lancar, tetapi sulit dimengerti                  2 = Sistematis,uraian krng,tdk jelas
3 = Komunikasi lancar tetapi kurang jelas dimengerti              3 = Sistematis, uraian cukup
4 = Komunikasi  sangat lancar, benar dan jelas  4 = Sistematis, uraian luas, jelas
Wawasan:                                                                 Keberanian:
1 =  Tidak menunjukkan wawasan                 1 = Tidak ada keberanian
2 =  Sedikit  memiliki wawasan                       2 = Kurang berani
3 =  Berwawasan tetapi kurang luas              3 = Berani
4 =  Berwawasan luas                                      4 = Sangat berani
Antusias:
1 = Tidak antusias
2 = Kurang antusias
3 = Antusias tetapi kurang kontrol
4 = Antusias dan terkontrol

                            Skor perolehan
  Nilai =                                            X  100
                      Skor Maksimal   

4.    Model Penilaian Perilaku
a.    Penilaian diri (self assessment)
1)    Skala sikap
Contoh skala sikap Likert
Nama :
No
Pernyataan
Pilihan
Ss
S
Ts
Sts
1
Indonesia merupakan masyarakat plural, karena masyarakatnya terdiri dari berbagai suku bangsa.




 2
Suku bangsa di Indonesia mempunyai toleransi yang tinggi terhadap kelompok/golongan/suku bangsa lainnya, sehingga dapat hidup berdampingan secara damai




3
Setiap suku bangsa di Indonesia mempunyai kebiasaan dan budaya yang unik, sehingga Indonesia dikenal kaya budaya




4
Pemerintah membuat program wajib belajar sembilan tahun agar warganegara menjadi lebih cerdas dan trampil




5
Setujukah kamu terhadap perilaku remaja yang menuliskan nama, atau kelompoknya ditempat-tempat wisata bersejarah ?




6
Setujukah kamu apabila salah satu suku bangsa menumbuhkan sikap merasa paling agung dibanding suku bangsa lainnya dalam kehidupan masyarakat di tempat tinggalmu?




Keterangan :
Ss = sangat setuju
S  = setuju
Ts = tidak setuju
Sts = sangat tidah setuju
Kriteria Penilaian :
Apabila kalimat positif ( no 2 dan 4 ) mendapatkan skor :
4 = sangat setuju
3 = setuju
2 = tidak setuju
1 = sangat tidak setuju
Apabila kalimat negatif ( no 1,3,5, dan 6 ) mendapatkan skor :
1 = sangat setuju
2 = setuju
3 = tidak setuju
4 = sangat tidak setuju
Perhitungan nilai dengan menggunakan :
                                                     ∑ Skor perolehan
Nilai =                                                                                        X  100
                                                   Skor Maksimal      

2)    Telaah diri dalam mengaplikasikan nilai-nilai PKB
Nilai-nilai PKB
Tahap pencapaian
Alasan
Program ke depan pelaksanaan nilai tersebut
Target pencapaian
Pendorong
Penghambat
/kendala
keterangan
Contoh:
jujur
MT
Masih sering tidak jujur terutama penggunaan uang jajan
Meningkatkan perilaku jujur
MB
-    Pelaksanaan PKB di kelas dan di sekolah.
-    Evaluasi hidup di keluarga
-    Rasa kasihan kepada Ayah
Besarnya iklan di media masa membuat masih ingin berbohong meminta tambahan uang jajan

Religius







Kepedulia sosial







Cinta tanah air







Dsb.








b.    Penilaian oleh orang lain misalnya sosiometri
Pilihlah temanmu yang paling rajin beribadah
Nomor
Nama
1.     

2.     

3.     

Hasil pilihan semua siswa dalam satu kelas dihimpun melalui matrik khusus yang dapat menunjukan perolehan peringkat 1,2, dan 3 bagi siswa yang paling rajin beribadah.

C.   PENYUSUNAN INSTRUMEN PENILAIAN IMPLEMENTASI NILAI-NILAI PKB
Tugas:
Menyusun instrumen penilaian untuk mata pelajaran dan penerapan nilai-nilai PKB meliputi:
Untuk Kepala Sekolah:
Menyusun indikator instrumen keberhasilan pelaksanaan PKB untuk:
a.      Di kelas
b.      Di sekolah
Untuk guru
1.    Catatan anecdotal sesuai materi dan indikator pencapaian kompetensi.
2.    Model pengamatan kegiatan dalam proses pembelajaran
3.    Instrumen tes (pilihan ganda dan uraian) sesuai
4.    Instrumen performance untuk materi atau mata pelajaran yang memiliki SI  dengan kompetensi yang fokus untuk penampilan peserta didik seperti Bahas Indonesia untuk kemampuan berbicara.

DAFTAR PUSTAKA

Kementerian Pendidikan  dan Kebudayaan Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah, 2012. Gerakan Nasional Pembangunan Karakter Bangsa Melalui Kebudayaan   dalam Google http://dikmen.kemdiknas.go.id/html/index.php?id=artikel&kode=49 tanggal 29 September 2012. diunduh tanggal 4 November 2012

Pusat Kurikulum & Perbukuan, Balitbang. 2011. Pembangunan Karakter Bangsa . Jakarta. Kementerian Pendidikan Nasional   (power point dalam Google)

Permendiknas Nomor  22 tahun 2006 tentang Standar Isi

Permendiknas Nomor 23 tahun 2006 tentang Standar Kompetensi Lulusan

Permendiknas Nomor 24 tahun 2006 tentang Pelaksanaan Standar Isi dan Standar KompetensiLulusan

Permendiknas Nomor 16 tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru

Permendiknas Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses.

Pusat Kurikulum.2009. Pengembangan dan Pendidikan Budaya & Karakter Bangsa. Depdiknas

Ramly Mansyur Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan, 2010.  Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa Pedoman Sekolah. Kementerian Pendidikan Nasional Badan Penelitian dan Pengembangan Pusat Kurikulum.

 



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar