Kamis, 01 Januari 2026

Kitab Negarakertagama

 



Kitab Negarakertagama?

Kitab Negarakertagama (kadang juga disebut Desawarnana untuk bagian tertentu) adalah karya sastra dan dokumen sejarah tertulis dari abad ke-14 yang berasal dari Kerajaan Majapahit, ditulis oleh Mpu Prapanca pada tahun 1287 Saka / 1365 Masehi.

  • Bentuk karya: Karya ini ditulis dalam bentuk puisi kakawin (dalam bahasa Kawi / Jawa Kuno), berisi pujian raja, deskripsi pemerintahan, serta wilayah kekuasaan Majapahit.
  • Penulis: Mpu Prapanca, seorang pejabat kerajaan Majapahit yang sangat paham administrasi dan kebijakan kerajaan.
  • Fungsi utama:
    1. Menyatakan legitimasi pemerintahan Raja Hayam Wuruk.
    2. Mendokumentasikan wilayah kekuasaan Majapahit, mulai dari Jawa hingga pulau-pulau sekitarnya.
    3. Memberi gambaran sosial, budaya, ekonomi, dan adat istiadat masyarakat pada masa itu.

Sumber ini sering disebut sebagai “peta administratif Majapahit tertulis”, karena mencatat nama-nama daerah dan kerajaan bawahan yang berada di bawah pengaruh Majapahit. (https://id.wikipedia.org/wiki/Negarakertagama)

2. Isi Penting Kitab Negarakertagama

Kitab ini terbagi menjadi beberapa bagian, dengan isi pokok sebagai berikut:

a. Pujian terhadap Raja Hayam Wuruk dan Kerajaan Majapahit

  • Mengisahkan kehebatan raja, keluarganya, dan dewa pelindung kerajaan.
  • Memuat ritual keagamaan, adat istiadat, dan hukum yang berlaku.
  • Memberikan konteks legitimasi politik dan spiritual untuk Majapahit sebagai kerajaan besar.

b. Daftar Wilayah Kekuasaan

Salah satu bagian yang paling penting secara historis adalah daftar wilayah dan kerajaan bawahan Majapahit.

  • Wilayah ini mencakup pulau Jawa, Bali, Kalimantan, Sumatra, dan wilayah kepulauan lainnya.
  • Di bagian ini disebutkan banyak daerah di Jawa Timur, termasuk wilayah yang kini dikenal sebagai Malang.
  • Daftar ini menjadi bukti bahwa Malang termasuk dalam struktur administrasi Majapahit dan memiliki peranan tertentu dalam sistem kerajaan, baik sebagai pusat pertanian maupun lokasi strategis.

c. Deskripsi Geografi dan Sosial

  • Kitab ini juga menggambarkan topografi, sungai, pegunungan, dan pelabuhan penting.
  • Menunjukkan hubungan perdagangan dan pajak antarwilayah, termasuk daerah di Jawa Timur.
  • Memberikan informasi nama-nama penduduk atau pejabat lokal, yang memungkinkan peneliti merekonstruksi jaringan pemerintahan Majapahit di wilayah Malang dan sekitarnya.

3. Relevansi Negarakertagama dengan Malang

  1. Status Administratif
    • Malang disebut sebagai salah satu wilayah bawahan Majapahit.
    • Artinya, pada abad ke-14, Malang sudah menjadi bagian penting dari jaringan administrasi kerajaan.
  2. Penting dalam Ekonomi dan Pertanian
    • Wilayah Malang dan sekitarnya dikenal sebagai pusat pertanian dan sumber pangan bagi kerajaan.
    • Catatan pajak, hasil bumi, dan distribusi pangan dalam kitab membantu memahami ekonomi lokal pada masa Majapahit.
  3. Bukti Keberlanjutan Sejarah
    • Bersama prasasti-prasasti sebelumnya (Dinoyo, Pamotoh, Muncang), Negarakertagama menunjukkan kesinambungan wilayah Malang dalam sejarah Jawa Timur sejak abad ke-8 hingga abad ke-14.

 

4. Keunggulan Kitab Negarakertagama

  • Dokumen Sejarah Terperinci: Memberikan informasi lebih rinci tentang administrasi dan wilayah dibanding prasasti sederhana.
  • Sumber Utama Kajian Majapahit: Banyak ahli sejarah menggunakan kitab ini sebagai referensi primer untuk memetakan kerajaan Majapahit dan interaksi politik dengan wilayah lain.
  • Bukti Sejarah Malang: Menjadi sumber penting untuk menelusuri asal-usul kota dan peranannya dalam kerajaan.

  5. Kesimpulan

  1. Kitab Negarakertagama (1365 M) adalah karya Mpu Prapanca yang menyajikan sejarah Majapahit, termasuk wilayah administratifnya.
  2. Malang tercatat sebagai wilayah bawahan Majapahit, menegaskan bahwa kota ini sudah memiliki peran penting sejak abad ke-14.
  3. Bersama prasasti-prasasti sebelumnya, kitab ini membentuk linimasa sejarah Malang: dari zaman Dinoyo, Kanjuruhan, Medang, Kediri, hingga Majapahit.
  4. Kitab ini menjadi sumber tertulis primer untuk studi sejarah, geografi, administrasi, ekonomi, dan budaya Jawa Timur pada masa Majapahit.

 tabel wilayah Jawa Timur yang disebut dalam Negarakertagama, lengkap dengan keterangan apakah wilayah tersebut termasuk daerah yang sekarang dikenal sebagai Malang, serta catatan fungsinya pada masa Majapahit. Saya menggunakan sumber sejarah klasik dan penelitian terkini tentang Negarakertagama.

 

No

Nama Wilayah dalam Negarakertagama

Status Sekarang (Kabupaten/Kota)

Termasuk Malang Sekarang?

Fungsi / Keterangan Masa Majapahit

1

Kanjuruhan

Malang dan sekitarnya

Ya

Pusat pemerintahan lokal, basis pertanian dan administrasi wilayah

2

Dinoyo

Kota Malang (sekarang)

Ya

Kawasan pemukiman dan tempat ibadah / candi kuno

3

Muncang

Blitar / Malang

Sebagian ya

Daerah sima / tanah bebas pajak untuk bangunan suci (Siddhayoga)

4

Singhasari

Kabupaten Malang

Ya

Pusat kerajaan Singhasari; lokasi pertahanan dan pemerintahan

5

Kuthoarjo (Kutoarjo)

Malang dan sekitarnya

Ya

Wilayah administrasi dan pertanian

6

Kediri

Kabupaten Kediri

Tidak

Basis ekonomi, pertanian dan pusat perdagangan

7

Jenggala

Kabupaten Jombang / Malang Utara

Sebagian ya

Wilayah administratif, pusat pengumpulan pajak dan pertanian

8

Daha

Kediri

Tidak

Ibukota kerajaan Kediri, pusat politik dan militer

9

Blambangan

Banyuwangi

Tidak

Wilayah perbatasan, perdagangan hasil bumi

10

Pasuruan

Kabupaten Pasuruan

Tidak

Pusat pertanian, perdagangan lokal

11

Tuban

Tuban

Tidak

Pusat pelabuhan dan perdagangan laut

12

Surabaya

Surabaya

Tidak

Pelabuhan utama dan pusat perdagangan Majapahit

13

Madura

Pulau Madura

Tidak

Produksi garam dan perdagangan

14

Gresik

Kabupaten Gresik

Tidak

Pelabuhan, perdagangan dan pusat administrasi Majapahit

Catatan:

  1. Wilayah-wilayah di atas disebut secara eksplisit dalam Negarakertagama sebagai bagian dari daerah kekuasaan Majapahit, baik sebagai pusat pemerintahan, pusat pertanian, atau wilayah strategis.
  2. Daerah Malang saat itu tercatat sebagian besar sebagai Kanjuruhan, Dinoyo, Singhasari, Kuthoarjo, dan Jenggala bagian Malang Utara, menunjukkan bahwa Malang sudah menjadi wilayah penting administratif dan strategis.
  3. Banyak wilayah memiliki fungsi ganda, misalnya pertanian + pusat pemujaan atau sima.
  4. Wilayah yang tidak termasuk Malang saat ini tetap menjadi bagian penting dari Jawa Timur Majapahit, termasuk kota pelabuhan dan pusat ekonomi seperti Surabaya, Tuban, Gresik.

Prasasti Muncang

 


1. Apa Itu Prasasti Muncang?

Prasasti Muncang adalah sebuah prasasti kuno yang berasal dari masa pemerintahan Mpu Sindok, raja pertama Kerajaan Medang (Mataram Kuno) di Jawa Timur. Prasasti ini dipahat pada batu andesit besar dan menggunakan aksara serta bahasa Jawa Kuno.

Tempat dan Tahun Penemuan

  • Ditemukan sekitar tahun 1913 di Dukuh Blandit, Desa Wonorejo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Jawa Timur.
  • Nama “Muncang” diambil dari toponim yang disebut dalam teks prasasti itu sendiri.
  • Saat ini prasasti ini disimpan di Balai Penyelamat Benda Purbakala Mpu Purwo, Kota Malang dengan nomor inventaris tertentu.

Bentuk dan Ukuran

  • Batu prasasti berbentuk segi lima dengan ukuran kurang lebih:
    • Tinggi: 142,5cm
    • Lebar: 99cm
    • Tebal: 22cm
  • Teks tergurat pada keempat sisi batu.

2. Isi Pokok Prasasti Muncang

Isi Prasasti Muncang terutama berkaitan dengan pemberian status sima kepada sebidang tanah di Desa Muncang dan keterangan tentang bangunan suci bernama Siddhayoga.

 Waktu Pemberian Sima

Prasasti ini menyebutkan tanggal penting:

  • Tahun: 866 Śaka (atau sekitar 944 Masehi)
  • Bulan: Caitra
  • Tanggal: 6 Suklapaksa
  • Wuku: Shinta
    …bertepatan dengan kalender Jawa Kuno masa itu.

Tokoh Dalam Prasasti

Pemberian hak sima dilakukan atas perintah:

  • Sri Maharaja Rakai Hino Mpu Sindok Sri Isanawikrama Dharmottunggadewa
    …yang dikenal sebagai Mpu Sindok, raja yang membawa pusat pemerintahaan Medang ke Jawa Timur setelah jatuhnya kerajaan di Jawa Tengah.

 Isi Utama Pasal

Isi prasasti menyatakan bahwa:
Sebidang tanah di Desa Muncang (wilayah Hujung) ditetapkan sebagai sima (tanah bebas pajak).
Tanah tersebut dibebaskan dari kewajiban membayar pajak karena hasil bumi dan pendapatannya digunakan untuk memelihara suatu prasada atau bangunan suci bernama Siddhayoga.
Bangunan suci ini adalah tempat para pendeta (hulun hyang) melakukan persembahan setiap hari kepada Bathara Syang Hyang Swayambhuwa — yang dipandang sebagai Dewa Brahma (Bathara Bromo / Bathara Sang Hyang Swayambhuwa).
Lokasi pemujaan berkaitan dengan tempat suci di Walandit (kemudian diidentifikasi berada di Blandit dekat Malang).

 

3. Makna dan Fungsi Prasasti Muncang

a. Pemberian Sima sebagai Penghargaan

Istilah sima dalam konteks prasasti Jawa kuno berarti:

  • Tanah bebas pajak yang diberikan oleh raja kepada seseorang atau kelompok (umumnya pendeta, pejabat, atau komunitas keagamaan) sebagai penghormatan dan untuk menjaga keberlangsungan kegiatan keagamaan atau pemeliharaan bangunan suci.
  • Pajak yang biasanya dibayar kepada kerajaan kini digunakan untuk tujuan religius, misalnya pemeliharaan tempat ibadah atau persembahan kepada dewa.

Prasasti Muncang menunjukkan betapa pemerintahan Mpu Sindok memberikan perhatian kuat terhadap perkembangan keagamaan dan administrasi wilayah Jawa Timur, termasuk di daerah Malang.

 

4. Kaitan Prasasti Muncang dengan Sejarah Wilayah Malang

Walaupun Prasasti Muncang tidak menyebut Malang sebagai nama kota secara eksplisit, prasasti ini:
Menunjukkan bahwa wilayah di sekitar Malang (Seputar Blandit / Singosari) sudah menjadi bagian penting dari administrasi pemerintahan kerajaan Jawa Kuno pada abad ke‑10.
Muncang dan Blandit disebut sebagai wilayah yang diberi status sima, sebuah indikasi bahwa daerah tersebut sudah memiliki struktur sosial dan ekonomi yang berarti, dan menjadi lokasi pemeliharaan bangunan suci Siddhayoga, berkaitan dengan kegiatan pemujaan kepada dewa tertentu yang diyakini setempat.

Dengan kata lain, prasasti ini menjadi salah satu bukti arkeologis penting yang menggambarkan kehidupan masyarakat, struktur pemerintahan, serta agama di Malang dan sekitarnya pada era awal sejarah Jawa Timur klasik.

5. Inti Kesimpulan

Prasasti Muncang (944 M) adalah prasasti beraksara dan berbahasa Jawa Kuno yang ditemukan di Malang dan berisi pemberian status sima untuk Desa Muncang, yang mencerminkan sistem administrasi kerajaan Mpu Sindok di Jawa Timur.
Pemberian ini terkait dengan pengembangan dan pemeliharaan tempat suci Siddhayoga, yang dimaksudkan sebagai tempat pemujaan kepada dewa Brahma (Bathara Syang Hyang Swayambhuwa), menggambarkan adanya keyakinan religius yang kuat di masyarakat saat itu.
Prasasti ini juga menunjukkan bahwa wilayah di sekitar Malang telah menjadi bagian penting dari administrasi kerajaan Jawa kuno sejak abad ke‑10 Masehi.

 

Prasasti Pamotoh (Ukir Negara)

 


1. Apa Itu Prasasti Pamotoh (Ukir Negara)?

Prasasti Pamotoh, juga dikenal dengan Prasasti Ukir Negara, adalah sebuah prasasti kuno yang berupa lempeng‑lempeng tembaga yang ditemukan di Dusun Perkebunan Sirah Kencong, Desa Ngadirenggo, Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar (Jawa Timur) pada akhir tahun 1974.

  • Prasasti ini ditulis dengan bahasa Jawa Kuno dan aksara Jawa Kuno.
  • Teks prasasti terdiri dari 8 lempeng tembaga, yang dibagi menjadi tiga kelompok berdasarkan isi dan waktu penulisan.
  • Bagian prasasti ini ditulis oleh Mpu Dawaman pada masa sebelum 1198 Masehi.

 

2. Pembagian Teks Prasasti dan Isinya

Kelompok I — Prasasti Marinci (1304 Saka / 1382 M)

Kelompok pertama hanya terdiri dari satu lempeng yang menyatakan bahwa warga Desa Marinci dibebaskan dari pajak‑pajak tertentu. Ini bukan bagian utama yang kita kaitkan dengan nama Malang.

 

Kelompok II — Prasasti Ukir Negara II (1120 Saka / 1198 M)

Ini adalah bagian prasasti yang penting secara historis dan pertama kali disebutkan nama Malang secara eksplisit.

Isi utama Pasal ini:

  • Pada tahun 1120 Saka (1198 M), Sri Digjaya Resi memberikan anugerah rumah dan tanah kepada Dyah Limpa dan juga wilayah‑wilayah tertentu yang disebutkan dengan ukuran tanah (diukur dalam jung).

Dalam prasasti bagian ini disebutkan batas‑batas tanah tersebut termasuk wilayah di sebelah timur suatu tempat berburu bernama Malang — artinya istilah Malang sudah dipakai setidaknya pada abad ke‑12 Masehi.

Teks Sansekerta dalam prasasti secara kasar menerangkan:
“… …taning sakrid Malang‑akalihan wacid lawan macu pasabhanira Dyah Limpa…
… yang artinya …di sebelah timur tempat berburu sekitar Malang….”

Ini adalah bukti tulisan pertama yang secara langsung memuat nama Malang dalam konteks batas wilayah pemberian tanah.

 Kelompok III — Prasasti Ukir Negara III (tanpa angka tahun)

Bagian ini menjelaskan tentang pemberian tanah sima (bebas pajak) kepada beberapa tokoh seperti:

  • Dyah Limpa
  • Dyah Mgat
  • Dyah Duhet
  • Dyah Rinami

…dengan hak‑hak istimewa seperti hak memberi budak, makanan istimewa, menetapkan denda, dan ketentuan hukum.

Prasasti ini juga menyebutkan bahwa hadiah tanah termasuk yang berada di dekat tempat‑tempat seperti Gasek dan yang di sebelah timur tempat berburu bernama Malang.

3. Makna dan Konteks Sejarahnya

 a. Pemberian Sima dan Struktur Sosial Zamannya

Istilah sima dalam prasasti ini berarti tanah yang diberikan bebas pajak dan dengan berbagai hak istimewa, biasanya diberikan sebagai hadiah oleh raja atau pejabat kepada pejabat tinggi, bangsawan, pendeta atau warga yang berjasa. Ini menunjukkan struktur pemerintahan yang terorganisir dan sistem hukum/administratif kerajaan pada masa itu di wilayah Jawa Timur.

b. Kaitan dengan Pemerintahan Airlangga?

Meskipun sering diceritakan dalam narasi sejarah bahwa prasasti seperti Prasasti Pucangan menunjukkan pembagian wilayah Airlangga menjadi Janggala dan Panjalu, Prasasti Pamotoh sendiri bukan dokumen pembagian wilayah Airlangga secara resmi seperti Pucangan — melainkan lebih kepada pemberian sima/hibah pada masa akhir Kerajaan Kediri atau periode transisi politik di Jawa Timur abad ke‑12 M.

 

c. Bukti Nama “Malang” Secara Tertulis

 Yang membuat Prasasti Pamotoh sangat penting adalah karena ini merupakan bukti tertulis pertama yang secara eksplisit menyebutkan nama Malang dalam konteks geografi dan administratif pada abad 1198 Masehi.

Sebelumnya dalam sumber‑sumber prasasti lain, nama Malang mungkin telah dipakai secara lokal atau lisan, tetapi Prasasti Pamotoh adalah bukti sistematis yang menunjukkan penggunaan nama Malang dalam teks tertulis kerajaan.

 

4. Kesimpulan Inti

Nama Malang pertama kali muncul secara resmi tertulis pada Prasasti Pamotoh (Ukir Negara II) tahun 1120 Saka / 1198 M — sebagai batas tanah di sebelah timur tempat berburu yang disebut Malang.

Prasasti ini juga menunjukkan adanya pemberian tanah sima oleh pejabat kerajaan kepada bangsawan besar, mencerminkan sistem administrasi dan politik Jawa Timur masa itu.

Walaupun disebut Prasasti Pamotoh, nama resmi prasasti ini dalam katalog sejarah adalah Prasasti Ukir Negara, terdiri dari beberapa bagian yang memiliki fungsi dan tanggal yang berbeda.

 

Prasasti Mantyasih

 


Apa Itu Prasasti Mantyasih?

Prasasti Mantyasih (juga disebut Prasasti Balitung atau Prasasti Tembaga Kedu) adalah sebuah prasasti yang dibuat dari lempeng tembaga dan berasal dari masa Kerajaan Mataram Kuno. Prasasti ini ditulis pada tahun 829 Saka atau 907 Masehi atas perintah Raja Balitung dari Dinasti Sanjaya (Mataram Kuno).

Prasasti ini ditemukan di dusun Mantyasih (kini Meteseh), Magelang Utara, Jawa Tengah, dan saat ini disimpan di Museum Radya Pustaka, Surakarta.

Isi Utama Prasasti Mantyasih

Prasasti ini memuat beberapa poin penting berikut:

1. Daftar Raja‑Raja Kerajaan Mataram Kuno

Prasasti Mantyasih mencantumkan nama‑nama raja yang pernah memerintah Kerajaan Mataram Kuno sebelum Raja Balitung. Daftar ini menunjukkan garis kekuasaan yang sah menurut pandangan Balitung, yaitu:

  • Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya
  • Sri Maharaja Rakai Panangkaran
  • Sri Maharaja Rakai Panunggalan
  • Sri Maharaja Rakai Warak
  • Sri Maharaja Rakai Garung
  • Sri Maharaja Rakai Pikatan
  • Sri Maharaja Rakai Kayuwangi
  • Sri Maharaja Rakai Watuhumalang
  • Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung (yakni Balitung sendiri)

Tujuan pencantuman daftar ini adalah untuk mele­gitimasikan kedudukan Raja Balitung sebagai raja yang sah atas Kerajaan Mataram Kuno, yaitu dengan memperlihatkan dirinya sebagai penerus rangkaian raja yang berdaulat penuh.

2. Penetapan Desa Mantyasih sebagai Sima

Dalam prasasti juga disebutkan bahwa desa Mantyasih ditetapkan sebagai sima — yaitu wilayah bebas pajak untuk penghormatan atau penghargaan tertentu.
Dalam konteks prasasti ini, sima diberikan kepada lima patih yang dianggap berjasa kepada kerajaan, terutama dalam pernikahan raja dan pengabdian mereka menjaga keamanan serta ibadah di bangunan suci tertentu.

3. Catatan Tentang Nama Tempat dan Alam

Prasasti ini juga menyebut beberapa elemen geografis lain, seperti Gunung Susundara dan Wukir Sumbing — yang kini dikenal sebagai Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing — menunjukkan bahwa kerajaan mengenal batas wilayah dan peta daerah tertentu.

Maksud dan Fungsi Prasasti Ini

 Legitimasi Kekuasaan Balitung

Salah satu tujuan utama pembuatan prasasti ini adalah untuk legitimasi atau pengakuan kekuasaan Raja Balitung sebagai penguasa sah Kerajaan Mataram Kuno melalui urat silsilah penguasa yang sah. Karena Balitung naik takhta bukan melalui garis keturunan langsung yang kuat, ia menegaskan statusnya dengan cara mencatat daftar raja terdahulu yang diakui sebagai penguasa penuh.

 Sumber Sejarah Kerajaan Mataram

Karena mencatat daftar nama‑nama raja Mataram Kuno dari awal masa kerajaan sampai masa Balitung, prasasti ini menjadi sumber historiografi paling penting untuk merekonstruksi sejarah kerajaan Mataram sejak abad ke‑8 sampai abad ke‑10 Masehi.

 Apa Hubungannya dengan Wilayah Malang?

Walaupun Prasasti Mantyasih tidak secara langsung menyebutkan nama “Malang” atau kota Malang secara eksplisit, prasasti ini tetap penting dalam konteks sejarah karena:

Kerajaan Mataram Kuno menguasai hampir seluruh Pulau Jawa pada masa itu, termasuk daerah Jawa Timur tempat Malang sekarang berada. Wilayah kekuasaan ini mencakup daerah yang lebih luas dari Jawa Tengah hingga ke Jawa Timur.

Catatan dalam Prasasti Mantyasih membantu memahami bendungan politik, pemerintahan, dan kekuasaan kerajaan Hindu‑Buddha di Jawa pada masa sebelum kerajaan‑kerajaan di Jawa Timur seperti Kediri, Singhasari, dan Majapahit muncul kemudian. Ini artinya prasasti ini memberi konteks historis lebih luas ketika menelusuri asal usul nama dan identitas daerah seperti Malang jauh setelahnya.

Kesimpulan Inti

Prasasti Mantyasih adalah sumber sejarah Kerajaan Mataram Kuno (907 M) yang dicatat dalam tembaga.
Isinya mencakup daftar raja‑raja Mataram, termasuk Balitung sendiri sebagai penguasa yang sah.
Prasasti ini dibuat untuk mele­gitimasikan Balitung dan memberikan status sima kepada desa Mantyasih.
Meski tidak menyebut nama Malang, prasasti ini tetap relevan untuk memahami konteks politikal dan administratif Jawa kuno, yang lebih luas termasuk wilayah tempat Malang berada.

 

Prasasti Dinoyo — Dokumen Sejarah Asli yang Ditemukan di Malang

 


Prasasti Dinoyo — Dokumen Sejarah Asli yang Ditemukan di Malang

Prasasti Dinoyo ditemukan di daerah Dinoyo (sekarang bagian Kota Malang) dan kini tersimpan di Museum Nasional Jakarta. Prasasti ini adalah salah satu bukti tertulis paling awal yang menunjukkan keberadaan pemerintahan terorganisir di wilayah Malang pada abad ke‑8 Masehi.

Tahun Penulisan

Prasasti bertarikh 682 Saka (setara 760 Masehi), menggunakan candrasengkala huruf Jawa kuno dan bahasa Sanskerta.

 

 Transkripsi Asli Prasasti Dinoyo (Ringkas)

Transkripsi lengkap prasasti dalam aksara yang kemudian diterjemahkan secara ilmiah adalah sebagai berikut (disingkat demi kejelasan):

  1. …nayama vasu rasa = tahun 682 Saka (760 M)
  2. Raja yang bijaksana bernama Dewasimha
  3. Putranya bernama Sang Liswa
  4. Kemudian diberi gelar Gajayana ketika menjadi raja …
  5. Raja memerintahkan pembangunan tempat pemujaan untuk Resi Agastya.
  6. Raja memberikan sapi, kerbau, budak, dan persembahan lain untuk upacara keagamaan.
  7. Dibangun tempat tinggal bagi para brahmana dan perlengkapan kehidupan mereka.
  8. Hukuman bagi yang menghalangi perintah raja ditempatkan.
  9. Dharmic rituals dan persembahan dipaparkan dalam teks. Kelurahan Sumbersari Kota Malang

(Itu adalah ringkasan inti dari isi prasasti berdasarkan transliterasi dan terjemahan epigrafi.) Kelurahan Sumbersari Kota Malang

 

Makna Sejarah Prasasti Dinoyo

Berdasarkan terjemahan dan kajian para ahli sejarah:

Prasasti menunjukkan adanya Kerajaan Kanjuruhan di daerah Malang bagian barat pada abad ke‑8 M.
Raja yang disebut dalam prasasti Dewasimha — memerintah wilayah tersebut dan digantikan oleh putranya Sang Liswa/Gajayana.
Gajayana mendirikan tempat pemujaan (kemungkinan dekat struktur candi seperti Candi Badut).
Prasasti memuat informasi tentang upacara ritual (somayajna) dan dukungan kerajaan terhadap kaum Brahmana.
Ini adalah salah satu sumber tertulis tertua yang membuktikan adanya pemerintahan terorganisir dan kebudayaan Hindu di wilayah yang sekarang disebut Malang sejak abad ke‑8.

 

Hubungan Prasasti ini dengan Nama “Malang”

Walaupun Prasasti Dinoyo tidak secara eksplisit mencantumkan kata “Malang”, ia menyebut pemerintahan Kerajaan Kanjuruhan yang merupakan cikal‑bakal sejarah wilayah di sekitar kota Malang sekarang — dan ini menjadi bukti awal bahwa area itu memiliki nama dan identitas kuat sejak masa kuno.

 

Kesimpulan Bukti Tertulis

Bukti Tulisan

Isi Pokok

Prasasti Dinoyo (760 M)

Menyebut Kerajaan Kanjuruhan, raja Dewasimha, penerus Sang Liswa/Gajayana, pembangunan tempat pemujaan Resi Agastya, penghargaan kepada Brahmana.

 Jika Anda membutuhkan terjemahan lebih lengkap isi setiap baris prasasti, atau ingin saya bantu menuliskan versi asli dalam huruf Latin lengkap dengan arti per baris, saya bisa bantu itu juga!

terjemahan lebih lengkap isi setiap baris prasasti, atau ingin saya bantu menuliskan versi asli dalam huruf Latin lengkap dengan arti per baris, saya bisa bantu itu juga!

Berikut ini terjemahan yang lebih lengkap isi setiap baris Prasasti Dinoyo — dengan versi alih aksara (huruf Latin) ditambah arti (terjemahan) per bagian berdasarkan sumber ahli sejarah dan epigrafi yang telah dipublikasikan.

 

Tulisan (Transliterasi / Alih Aksara) Prasasti Dinoyo

Prasasti Dinoyo ditemukan dalam tiga bagian dan ditulis dengan huruf Jawa Kuno (aksara Kawi) serta menggunakan bahasa Sanskerta. Berikut adalah baris‑barisnya yang masih terbaca:

1. (svasti śaka varṣātīta 682)

2. || āsīt (nārāpati dhīman devasiha)

3. tāpavān yena gupta (parībhāti pūtikeśvā)

4. rapāvitā || limva api tana(-ya tasyagajayāna)

5. iti smta rarakṣa svarggage tate (sutañ puruṣan maha)

6. || limvasya duhitā jajñe prada(patrasya bhupate utteja)

7. nā iti mahiṣī jananī yasya dhīmata || a(nana (?) kalaśa)

8. je bhagavati agastyebhakta dvijātihitakdgaja(-yānanā[mā])

9. maulai saayakagaai samakārbaittad taramyan maha

10. rṣibhavanam valahājiyamya || pūrvvai ktam tu suradā rumayī[] [||]

11. samīkṣya kīrttipriya tala galapratimā manasvī ājñā

12. pya śilpinam aram sa ca dīrghadarśśī kādbhutopalama

13. yīm npati cakāra || rājñāgasta śakabde nayana vasu

14. rase mārggaśirṣe ca māse addrartthe śukra vāre pratipa

15. da divase pakṣasandhau dhruve {cha} tvigbhi vedavidbhi yativara

16. sahitai sthāpakadyai samaumai karmajñai kumbhayagne sudda ha

17. matimata sthāpita kumbhayoni || kṣetram gāva supuṣpā mahiṣa

18. gaayutā dāsadāsī purogā dattā rājñā maharṣi pravaracaruha

(Catatan: beberapa suku kata dalam prasasti mengalami kerusakan / bagian hilang yang ditandai tanda kurung, elipsis, atau kurung kurawal).

 

Terjemahan Lengkap Per Bagian

Berikut ini adalah terjemahan per bagian secara runut dari baris prasasti di atas (disadur dari interpretasi oleh para epigrafer):

 Baris 1–2

  1. “Kemuliaan pada tahun 682 Saka yang telah berlalu.”
  2. “Ada seorang raja bijaksana dan berkuasa bernama Dewasimha…”

 Baris 3–5

3–4. “… di bawah lindungan api Putikeswara yang memancarkan sinar di sekelilingnya.
5. Sang putra, bernama Limwa (yang kemudian dikenal sebagai Gajayana)…”

 Baris 6–7

  1. “Putra Limwa itu memiliki seorang putri bernama Uttejana, yang menjadi permaisuri seorang raja bernama Pradaputra.”
  2. “Permaisuri ini adalah ibu dari seorang (yang disebut Anana) yang bijaksana,…”

 Baris 8–10

8–9. “… yang berbakti kepada Bhagavati Agastya, dan kepada kaum dvija (brahmana/pendeta),…
10. ia memerintahkan untuk mendirikan kediaman suci tinggi untuk Agastya…”

 Baris 11–13

11–12. “Setelah melihat sebuah gambar kayu (patung) lama, sang permaisuri segera memerintahkan seorang seniman ulung
13. …untuk membuat arca batu hitam Agastya yang sangat indah sebagai pengganti yang lama.”

 Baris 14–15

14–15. “Pada tahun 682 Saka, di bulan Margasirsa, pada hari Jumat, saat pertengahan bulan antara fase gelap dan terang,…
… maka raja memerintahkan para tvig (pendeta), vedavid (ahli Weda), dan yati (pertapa)… untuk melakukan upacara suci.”

 Baris 16–18

16–17. “… untuk mendirikan patung suci Kumbhayoni, serta tempat pemujaan untuk upacara suci—lengkap dengan tanah, ladang, sapi, kerbau, dan bunga sebagai persembahan…
18. juga memberikan budak laki‑laki dan perempuan, serta para pengikut, sebagai hadiah dari raja kepada para pendeta dan Brahmana.”

 

 Inti Makna Isi Prasasti

Dari keseluruhan isi prasasti, pesan utamanya adalah:

Pencatatan silsilah kerajaan Kerajaan Kanjuruhan, mencatat raja Dewasimha, putranya Limwa yang bergelar Gajayana, dan putri Uttejana.
Pendirian tempat pemujaan baru untuk Resi Agastya yang dipandang suci, menggantikan arca lama.
Penyelenggaraan upacara besar oleh pendeta Veda (Hindu) yang dihadiri oleh berbagai golongan rohaniwan.
Penghormatan kepada Brahmana dan pemberian hadiah yang terkait dengan pembangunan dan pemeliharaan tempat suci tersebut.

 

 Catatan Tambahan

Prasasti Dinoyo adalah bukti tertulis paling awal yang menunjukkan keberadaan kerajaan berorganisasi di wilayah yang kini disebut Kota Malang pada abad ke‑8 Masehi.

 

Kitab Negarakertagama

  Kitab Negarakertagama ? Kitab Negarakertagama (kadang juga disebut Desawarnana untuk bagian tertentu) adalah karya sastra dan dokumen ...