Kamis, 01 Januari 2026

Prasasti Dinoyo — Dokumen Sejarah Asli yang Ditemukan di Malang

 


Prasasti Dinoyo — Dokumen Sejarah Asli yang Ditemukan di Malang

Prasasti Dinoyo ditemukan di daerah Dinoyo (sekarang bagian Kota Malang) dan kini tersimpan di Museum Nasional Jakarta. Prasasti ini adalah salah satu bukti tertulis paling awal yang menunjukkan keberadaan pemerintahan terorganisir di wilayah Malang pada abad ke‑8 Masehi.

Tahun Penulisan

Prasasti bertarikh 682 Saka (setara 760 Masehi), menggunakan candrasengkala huruf Jawa kuno dan bahasa Sanskerta.

 

 Transkripsi Asli Prasasti Dinoyo (Ringkas)

Transkripsi lengkap prasasti dalam aksara yang kemudian diterjemahkan secara ilmiah adalah sebagai berikut (disingkat demi kejelasan):

  1. …nayama vasu rasa = tahun 682 Saka (760 M)
  2. Raja yang bijaksana bernama Dewasimha
  3. Putranya bernama Sang Liswa
  4. Kemudian diberi gelar Gajayana ketika menjadi raja …
  5. Raja memerintahkan pembangunan tempat pemujaan untuk Resi Agastya.
  6. Raja memberikan sapi, kerbau, budak, dan persembahan lain untuk upacara keagamaan.
  7. Dibangun tempat tinggal bagi para brahmana dan perlengkapan kehidupan mereka.
  8. Hukuman bagi yang menghalangi perintah raja ditempatkan.
  9. Dharmic rituals dan persembahan dipaparkan dalam teks. Kelurahan Sumbersari Kota Malang

(Itu adalah ringkasan inti dari isi prasasti berdasarkan transliterasi dan terjemahan epigrafi.) Kelurahan Sumbersari Kota Malang

 

Makna Sejarah Prasasti Dinoyo

Berdasarkan terjemahan dan kajian para ahli sejarah:

Prasasti menunjukkan adanya Kerajaan Kanjuruhan di daerah Malang bagian barat pada abad ke‑8 M.
Raja yang disebut dalam prasasti Dewasimha — memerintah wilayah tersebut dan digantikan oleh putranya Sang Liswa/Gajayana.
Gajayana mendirikan tempat pemujaan (kemungkinan dekat struktur candi seperti Candi Badut).
Prasasti memuat informasi tentang upacara ritual (somayajna) dan dukungan kerajaan terhadap kaum Brahmana.
Ini adalah salah satu sumber tertulis tertua yang membuktikan adanya pemerintahan terorganisir dan kebudayaan Hindu di wilayah yang sekarang disebut Malang sejak abad ke‑8.

 

Hubungan Prasasti ini dengan Nama “Malang”

Walaupun Prasasti Dinoyo tidak secara eksplisit mencantumkan kata “Malang”, ia menyebut pemerintahan Kerajaan Kanjuruhan yang merupakan cikal‑bakal sejarah wilayah di sekitar kota Malang sekarang — dan ini menjadi bukti awal bahwa area itu memiliki nama dan identitas kuat sejak masa kuno.

 

Kesimpulan Bukti Tertulis

Bukti Tulisan

Isi Pokok

Prasasti Dinoyo (760 M)

Menyebut Kerajaan Kanjuruhan, raja Dewasimha, penerus Sang Liswa/Gajayana, pembangunan tempat pemujaan Resi Agastya, penghargaan kepada Brahmana.

 Jika Anda membutuhkan terjemahan lebih lengkap isi setiap baris prasasti, atau ingin saya bantu menuliskan versi asli dalam huruf Latin lengkap dengan arti per baris, saya bisa bantu itu juga!

terjemahan lebih lengkap isi setiap baris prasasti, atau ingin saya bantu menuliskan versi asli dalam huruf Latin lengkap dengan arti per baris, saya bisa bantu itu juga!

Berikut ini terjemahan yang lebih lengkap isi setiap baris Prasasti Dinoyo — dengan versi alih aksara (huruf Latin) ditambah arti (terjemahan) per bagian berdasarkan sumber ahli sejarah dan epigrafi yang telah dipublikasikan.

 

Tulisan (Transliterasi / Alih Aksara) Prasasti Dinoyo

Prasasti Dinoyo ditemukan dalam tiga bagian dan ditulis dengan huruf Jawa Kuno (aksara Kawi) serta menggunakan bahasa Sanskerta. Berikut adalah baris‑barisnya yang masih terbaca:

1. (svasti śaka varṣātīta 682)

2. || āsīt (nārāpati dhīman devasiha)

3. tāpavān yena gupta (parībhāti pūtikeśvā)

4. rapāvitā || limva api tana(-ya tasyagajayāna)

5. iti smta rarakṣa svarggage tate (sutañ puruṣan maha)

6. || limvasya duhitā jajñe prada(patrasya bhupate utteja)

7. nā iti mahiṣī jananī yasya dhīmata || a(nana (?) kalaśa)

8. je bhagavati agastyebhakta dvijātihitakdgaja(-yānanā[mā])

9. maulai saayakagaai samakārbaittad taramyan maha

10. rṣibhavanam valahājiyamya || pūrvvai ktam tu suradā rumayī[] [||]

11. samīkṣya kīrttipriya tala galapratimā manasvī ājñā

12. pya śilpinam aram sa ca dīrghadarśśī kādbhutopalama

13. yīm npati cakāra || rājñāgasta śakabde nayana vasu

14. rase mārggaśirṣe ca māse addrartthe śukra vāre pratipa

15. da divase pakṣasandhau dhruve {cha} tvigbhi vedavidbhi yativara

16. sahitai sthāpakadyai samaumai karmajñai kumbhayagne sudda ha

17. matimata sthāpita kumbhayoni || kṣetram gāva supuṣpā mahiṣa

18. gaayutā dāsadāsī purogā dattā rājñā maharṣi pravaracaruha

(Catatan: beberapa suku kata dalam prasasti mengalami kerusakan / bagian hilang yang ditandai tanda kurung, elipsis, atau kurung kurawal).

 

Terjemahan Lengkap Per Bagian

Berikut ini adalah terjemahan per bagian secara runut dari baris prasasti di atas (disadur dari interpretasi oleh para epigrafer):

 Baris 1–2

  1. “Kemuliaan pada tahun 682 Saka yang telah berlalu.”
  2. “Ada seorang raja bijaksana dan berkuasa bernama Dewasimha…”

 Baris 3–5

3–4. “… di bawah lindungan api Putikeswara yang memancarkan sinar di sekelilingnya.
5. Sang putra, bernama Limwa (yang kemudian dikenal sebagai Gajayana)…”

 Baris 6–7

  1. “Putra Limwa itu memiliki seorang putri bernama Uttejana, yang menjadi permaisuri seorang raja bernama Pradaputra.”
  2. “Permaisuri ini adalah ibu dari seorang (yang disebut Anana) yang bijaksana,…”

 Baris 8–10

8–9. “… yang berbakti kepada Bhagavati Agastya, dan kepada kaum dvija (brahmana/pendeta),…
10. ia memerintahkan untuk mendirikan kediaman suci tinggi untuk Agastya…”

 Baris 11–13

11–12. “Setelah melihat sebuah gambar kayu (patung) lama, sang permaisuri segera memerintahkan seorang seniman ulung
13. …untuk membuat arca batu hitam Agastya yang sangat indah sebagai pengganti yang lama.”

 Baris 14–15

14–15. “Pada tahun 682 Saka, di bulan Margasirsa, pada hari Jumat, saat pertengahan bulan antara fase gelap dan terang,…
… maka raja memerintahkan para tvig (pendeta), vedavid (ahli Weda), dan yati (pertapa)… untuk melakukan upacara suci.”

 Baris 16–18

16–17. “… untuk mendirikan patung suci Kumbhayoni, serta tempat pemujaan untuk upacara suci—lengkap dengan tanah, ladang, sapi, kerbau, dan bunga sebagai persembahan…
18. juga memberikan budak laki‑laki dan perempuan, serta para pengikut, sebagai hadiah dari raja kepada para pendeta dan Brahmana.”

 

 Inti Makna Isi Prasasti

Dari keseluruhan isi prasasti, pesan utamanya adalah:

Pencatatan silsilah kerajaan Kerajaan Kanjuruhan, mencatat raja Dewasimha, putranya Limwa yang bergelar Gajayana, dan putri Uttejana.
Pendirian tempat pemujaan baru untuk Resi Agastya yang dipandang suci, menggantikan arca lama.
Penyelenggaraan upacara besar oleh pendeta Veda (Hindu) yang dihadiri oleh berbagai golongan rohaniwan.
Penghormatan kepada Brahmana dan pemberian hadiah yang terkait dengan pembangunan dan pemeliharaan tempat suci tersebut.

 

 Catatan Tambahan

Prasasti Dinoyo adalah bukti tertulis paling awal yang menunjukkan keberadaan kerajaan berorganisasi di wilayah yang kini disebut Kota Malang pada abad ke‑8 Masehi.

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kerinduan yang Kupeluk Diam-Diam

  Kerinduan yang Kupeluk Diam-Diam Di antara detak jam yang lupa berhenti, namamu berlayar di benakku, seperti doa yang tak pernah selesa...