Senin, 22 April 2013

Buletin " BASIS 22 " edisi 2

Basis 22 mengangkat Dinten Bahasa Jawi dalam tajuk rencana yang ditulis oleh Ros Sagitarani S.Pd guru dari SMPN 22 Malang, lebih lengkapnya ada di sini BASIS 22



DINTEN BASA JAWI ????....
            Pernakah kita mendengar istilah English Day ? Tentu jawabnya sudah tidak asing lagi bukan ?  Karena program tersebut sudah disosialisasikan dan dilaksanakan sejak saya duduk dibangku SMP. Harapannya saat itu adalah agar masyarakat Indonesia yang terdidik tidak asing lagi dengan bahasa Internasional tersebut. Dan hasilnya luar biasa. Sekian tahun kemudian Bahasa Inggris menjadi bahasa yang popular di Indonesia.
          Namun bagaimana dengan istilah “dinten basa jawi” ? Ironisnya istilah itu masih asing bahkan bagi orang jawa sendiri. Tujuan  dilaksakan program dinten basa jawi adalah bisa melestarikan bahasa sendiri, ternyata malah menjadi pupus karena masih banyak yang memandang dengan sebelah mata.
          Bahasa Inggris makin populer, Bahasa Indonesia wajib digunakan sebagai bahasa nasional, ditambah lagi dengan bahasa Korea yang mulai menjajah lagu-lagu dan film  Indonesia, maka komplit sudah hal itu menjadikan bahasa Jawa bahasa yang terabaikan.
          Di rumah orang tua sudah membiasakan bahasa Indonesia, bahkan tak jarang saya mendengar para orang tua menggunakan bahasa Inggris untuk kalimat perintah maupun larangan pada anaknya. Misalnya saat balita memetik bunga, Ibunya mengatakan ” no,no!” atau saat anaknya bergerak mondar-mandi terus, lalu Ibu mengatakan” quit baby, sit down please !” Dan sang anakpun terbiasa mendengar istilah tersebut sehingga saat si anak melakukan kesalahan yang tidak sengaja, diapun mengucapkan “ I’m sorry mama”. Atau saat dia melewati orang dewasa lain maka dia mengatakan “excuse me…”
          Duhai bahasa Jawa…. Dimana keberadaanmu kini?? Orang tua dari suku Jawa aslipun sudah tidak lagi mengajarkan bahasa leluhurnya.Tidak juga mengajarkan istilah nyuwun sewu, ngapunten, matur suwun, sugeng enjang, dan lain-lain. Kata-kata santun itu kini diubah menjadi “excuse me, I’m sorry, thank you, good morning, dan lain-lain.
          Ketika saya belanja di pasar tradisional, saya memperhatikan orang muda menawar belanjaannya menggunakan bahasa Indonesia dengan dialek Jawa. Hal tersebut tidak salah.Namun itu juga menyiratkan bahwa orang muda tersebut adalah orang Jawa yang sudah tidak bisa lagi berbahasa Jawa, atau takut salah menggunakan bahasa Jawa.
Benarlah kekhawatiran leluhur kita dulu bahwa suatu saat nanti wong Jawa wis gak njawani, artinya orang Jawa sudah tidak tahu budaya Jawa yang luhur..
Kapan lagi kita membiarkan bahasa Jawa terus-terusan terkikis oleh bahasa asing keberadaannya? Jika kita mau menghentikan kondisi ini maka program dinten basa jawi adalah solusinya. Ditetapkannya satu hari pada setiap minggunya menggunakan bahasa Jawa di sekolah (wilayah jawa).
Saya bangga saat siswa saya bisa menggunakan basa krama untuk ijin ke belakang.Saya juga tersenyum saat siswa menyapa saya sugeng enjing bu…walau itu pada jam ke delapan atau jam terakhir pelajaran.Walau salah dan perlu diluruskan, yang penting mereka sudah mau mempraktekkan bahasa leluhurnya.Sedikit demi sedikit lama-lama akan menjadi lurus dan benar. Seharusnya seperti itulah cara melestarikan budaya nasional.
Jangan sampai Bahasa Jawa itu diakui oleh negeri Belanda yang notabene masyarakatnya memang tertarik mempelajari budaya jawa.Buktinya di negeri tersebut sudah dibuka pendidikan jurusan Bahasa Jawa. Kalau kita tidak berusaha melestarikannya, sekian puluh tahun yang akan datang Bahasa Jawa hanyalah sejarah budaya yang pernah dimiliki bangsa kita.Oh itukah nasib dan riwayatmu Bahasa Jawa?  Para generasi akan mengatakan GOOD BYE BAHASA JAWA….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar