Senin, 29 April 2013

Drama Pagebluk dari desa girah ( Prahara Calon arang)




Pada mulanya suasana di wilayah Kerajaan Daha (Kadiri) sangat tentram. Raja di Daha bernama Airlangga. Di sana hidup seorang janda, yang bernama Calon Arang, yang mempunyai anak yang cantik, yang bernama Ratna Manggali. Mereka berdua tinggal di desa Girah, di wilayah Kerajaan Daha. Lama tidak ada orang yang melamarnya. Semua orang di Girah, apalagi di Daha, tidak ada orang di daerah pinggiran, tidak ada yang berani melamar anak si janda itu. Oleh karena terdengar oleh negeri, bahwa beliau (janda) di Girah itu melakukan yang cemar. Menjauhlah orang-orang melamar Manggali

Pengantar 
Setelah satu tahun tidak ada kegiatan wisuda sepertinya mati juga kegiatan drama, apalagi kegiatan ekstra juga sudah tidak ada karena Pembina kegiatan ekstra drama bapak syukron harus kuliah S2 sehingga kegiatan ekstra terpaksa dihentikan, kebetulan ada acara wisuda kelas 9 hal ini tidak disia-siakan oleh OSIS SMPN 22 untuk mengelar kembali kegiatan drama yang sudah lama vakum tersebut, berawal dari iseng mengajak untuk tampil drama, ternyata mendapatkan sambutan yang luar biasa dar

i anak-anak OSIS , mulailah membuat naskah dengan mencari kesana kemari berbagai sumber dari internet, muncullah sebuah ide mengangkat sebuah cerita dari kitab Calon Arang yang diambil dari masa kerajaan Kediri, kemudian diberi judul “Pagebluk dari desa girah“cerita ini berkisah tentang seorang janda di desa girah yang mempunyai seorang anak  sangat cantik tetapi tidak ada satupun pemuda desa berani melamar karena semua penduduk desa tahu bahwa calon arang sering melakukan tindakan yang tercela maka takutlah semua untuk meminang Ratna Manggali, karena merasa anaknya tidak ada yang meminang, timbullah kemarahan calon arang yang merasa dirinya dikesampingkan oleh masyarakat desa girah, mulailah ia menyebarkan tuah kepada seluruh masyarakat,  semua rakyat banyak yang sakit, siang sakit sore meninggal, sore sakit pagi meninggal, timbulah keresahan masyarakat Kediri. Hal inipun terdengar oleh Raja Airlangga murkalah sang raja maka ia menugaskan patihnya yang bernama Patih Madri, namun kesaktian Patih Madri tidak bisa menandingi kesaktian Calon Arang maka binasalah ia karenanya, kematian patih Madri ini pun juga didengar oleh raja Airlangga maka ia menugaskan Empu Baradah untuk mengatasi kesaktian Calon Arang, nampaknya sang Empu Baradahpun juga ragu untuk mengahadpi langsung kesaktian Calon Arang, ia menugaskan muridnya  yang bernama Empu Bahula untuk mencari tahu kesaktian Calon Arang, Dengan siasat liciknya Empu baradah memerintahkan muridnya empu Bahula untuk meminang Ratna Manggali guna mendapatkan buku Lontar kesaktian Calon Arang, berangkatlah Bahula meminang Ratna Manggali tanpa rasa curiga sedikitpun Calon Arang menerima pinangan Empu Bahula dan menikahkan dengan putrinya Ratna Manggali, dalam cerita drama ini penulis sengaja membuat tokoh baru guna memberi bumbu roman pada cerita ini dengan menambahkan tokoh Putri Ayu yang berperan sebagai putri Empu Baradah, dalam cerita ini Putri Ayu dikisahkan sudah menjalin asmara dengan Empu Bahula dan ketika Empu Bahula menerima tugas untuk meminang Ratna Manggali ia harus meninggalkan Putri Ayu     disinilah penulis berharap munculnya sebuah emosi bagi para penikmat drama ini. Akhir drama ini memang bisa ditebak dengan mudah Calon Arang meninggal dan Ratna Manggali dengan Empu Bahula, namun bagaimana dengan putri Ayu ?, berkat usulan dari beberapa pemain, akhir dari drama ini menampilkan putri ayu yang sedang merindukan Empu Bahula dan diakhiri dengan lagu Wedi Karo Bojomu, memberikan kesan bahwa Putri Ayu masih sangat mengharapkan kehadiran Empu Bahula meskipun si Empu sudah beristri,..he..he .sebuah akhir yang mengharukan,...Adapun pemain dari drama ini adalah Shabrina sebagai calon Arang, Pujangga sebagai Putri Ayu, Shafira sebagai Ratna Manggali,  Ari Wijaya sebagai Empu Baradah, Rahaditya sebagai Empu Bahula, Nugroho sebagai Raja Airlangga, Irena Sebagai Ratu, Alifiansyah sebagi Patih Madri, Maulana Tri, Nanda, Septia Hena, Noza dan Iza Ayu sebagai NYi-Nyi murid Calon Arang, Rizki fahmi, Ibrahim, Andika, Alisha, Felicia, Reshita, Salsa dan Riska Aulia sebagai rakyat. Durasi dari drama ini 42 menit cukup panjang juga untuk sebuah drama perpisahan, semoga kedepan masih ada kesempatan untuk tampil kembali dengan cerita yang berbeda, Amin. (Sumarno Guritno)


 dipentaskan pada tanggal 2 Juni 2013 pada acara wisuda kelas 9 di SMPN 22 Malang

Senin, 22 April 2013

Buletin " BASIS 22 " edisi 2

Basis 22 mengangkat Dinten Bahasa Jawi dalam tajuk rencana yang ditulis oleh Ros Sagitarani S.Pd guru dari SMPN 22 Malang, lebih lengkapnya ada di sini BASIS 22



DINTEN BASA JAWI ????....
            Pernakah kita mendengar istilah English Day ? Tentu jawabnya sudah tidak asing lagi bukan ?  Karena program tersebut sudah disosialisasikan dan dilaksanakan sejak saya duduk dibangku SMP. Harapannya saat itu adalah agar masyarakat Indonesia yang terdidik tidak asing lagi dengan bahasa Internasional tersebut. Dan hasilnya luar biasa. Sekian tahun kemudian Bahasa Inggris menjadi bahasa yang popular di Indonesia.
          Namun bagaimana dengan istilah “dinten basa jawi” ? Ironisnya istilah itu masih asing bahkan bagi orang jawa sendiri. Tujuan  dilaksakan program dinten basa jawi adalah bisa melestarikan bahasa sendiri, ternyata malah menjadi pupus karena masih banyak yang memandang dengan sebelah mata.
          Bahasa Inggris makin populer, Bahasa Indonesia wajib digunakan sebagai bahasa nasional, ditambah lagi dengan bahasa Korea yang mulai menjajah lagu-lagu dan film  Indonesia, maka komplit sudah hal itu menjadikan bahasa Jawa bahasa yang terabaikan.
          Di rumah orang tua sudah membiasakan bahasa Indonesia, bahkan tak jarang saya mendengar para orang tua menggunakan bahasa Inggris untuk kalimat perintah maupun larangan pada anaknya. Misalnya saat balita memetik bunga, Ibunya mengatakan ” no,no!” atau saat anaknya bergerak mondar-mandi terus, lalu Ibu mengatakan” quit baby, sit down please !” Dan sang anakpun terbiasa mendengar istilah tersebut sehingga saat si anak melakukan kesalahan yang tidak sengaja, diapun mengucapkan “ I’m sorry mama”. Atau saat dia melewati orang dewasa lain maka dia mengatakan “excuse me…”
          Duhai bahasa Jawa…. Dimana keberadaanmu kini?? Orang tua dari suku Jawa aslipun sudah tidak lagi mengajarkan bahasa leluhurnya.Tidak juga mengajarkan istilah nyuwun sewu, ngapunten, matur suwun, sugeng enjang, dan lain-lain. Kata-kata santun itu kini diubah menjadi “excuse me, I’m sorry, thank you, good morning, dan lain-lain.
          Ketika saya belanja di pasar tradisional, saya memperhatikan orang muda menawar belanjaannya menggunakan bahasa Indonesia dengan dialek Jawa. Hal tersebut tidak salah.Namun itu juga menyiratkan bahwa orang muda tersebut adalah orang Jawa yang sudah tidak bisa lagi berbahasa Jawa, atau takut salah menggunakan bahasa Jawa.
Benarlah kekhawatiran leluhur kita dulu bahwa suatu saat nanti wong Jawa wis gak njawani, artinya orang Jawa sudah tidak tahu budaya Jawa yang luhur..
Kapan lagi kita membiarkan bahasa Jawa terus-terusan terkikis oleh bahasa asing keberadaannya? Jika kita mau menghentikan kondisi ini maka program dinten basa jawi adalah solusinya. Ditetapkannya satu hari pada setiap minggunya menggunakan bahasa Jawa di sekolah (wilayah jawa).
Saya bangga saat siswa saya bisa menggunakan basa krama untuk ijin ke belakang.Saya juga tersenyum saat siswa menyapa saya sugeng enjing bu…walau itu pada jam ke delapan atau jam terakhir pelajaran.Walau salah dan perlu diluruskan, yang penting mereka sudah mau mempraktekkan bahasa leluhurnya.Sedikit demi sedikit lama-lama akan menjadi lurus dan benar. Seharusnya seperti itulah cara melestarikan budaya nasional.
Jangan sampai Bahasa Jawa itu diakui oleh negeri Belanda yang notabene masyarakatnya memang tertarik mempelajari budaya jawa.Buktinya di negeri tersebut sudah dibuka pendidikan jurusan Bahasa Jawa. Kalau kita tidak berusaha melestarikannya, sekian puluh tahun yang akan datang Bahasa Jawa hanyalah sejarah budaya yang pernah dimiliki bangsa kita.Oh itukah nasib dan riwayatmu Bahasa Jawa?  Para generasi akan mengatakan GOOD BYE BAHASA JAWA….

langkah perencanaan pembelajaran berdiferensiasi

  langkah perencanaan pembelajaran berdiferensiasi   1. Melakukan pemetaan siswa berdasarkan kompetensi, minat, dan kebutuhan Pada tahap...