Selasa, 24 Februari 2026

PERENCANAAN KEGIATAN KOKURIKULER INTEGRASI ANTAR BIDANG STUDI ( Anti Hoaks dan Literasi Digital )

 

PERENCANAAN KEGIATAN KOKURIKULER

INTEGRASI ANTAR BIDANG STUDI

 

SEKOLAH                                       : SMPN 8 Malang

INTEGRASI MATA PELAJARAN   : IPS,  IPA, BAHASA INDONESIA, PPKn

KELAS / SEMESTER / FASE           : VIII / 1 / D

ALOKASI WAKTU                         : 5 x 40 menit

TEMA                                                  : Anti Hoaks dan Literasi Digital: Bijak Bermedia di Era Informasi

 

 

 

 

 

 

 

 

IDENTIFIKASI

 

 

 

 

 

 

 

 

Peserta Didik

IDENTIFIKASI KESIAPAN BELAJAR PESERTA DIDIK

Tema        : Anti Hoaks dan Literasi Digital: Bijak Bermedia di Era Informasi

Sekolah     : SMPN 8 Malang

Lingkungan: Perkotaan, tengah kota, dengan latar belakang sosial yang beragam

 

1. Aspek Pengetahuan Awal

  • Mayoritas siswa telah terbiasa menggunakan media sosial (WhatsApp, TikTok, Instagram, YouTube).
  • Sebagian siswa belum memahami secara jelas perbedaan antara berita fakta dan berita hoaks, serta belum memahami dampak penyebaran hoaks.
  • Sebagian siswa belum terbiasa mengecek kebenaran informasi (fact-checking) sebelum membagikannya.
  • Siswa sudah mengenal istilah “hoaks” namun belum memahami cara kerja algoritma digital dan echo chamber dalam penyebaran informasi.

Catatan Penting: Perlu kegiatan awal yang memantik kesadaran dan menunjukkan contoh nyata hoaks yang pernah viral agar siswa merasa terlibat secara personal.

 

2. Aspek Minat

  • Banyak siswa menunjukkan minat tinggi terhadap topik yang berkaitan dengan teknologi, media sosial, dan isu viral.
  • Siswa tertarik pada video pendek, meme, dan konten digital interaktif, serta aktif membagikan konten ke teman sebaya.
  • Ada ketertarikan terhadap isu sosial terkini, namun sering kali bersifat emosional dan belum kritis terhadap informasi yang diterima.

Rekomendasi: Gunakan metode pembelajaran berbasis proyek kreatif seperti membuat kampanye anti-hoaks di media sosial sekolah, atau lomba membuat infografis/liputan mini.

 

3. Aspek Latar Belakang Sosial-Budaya

  • Siswa berasal dari keluarga dengan latar belakang ekonomi dan budaya yang beragam (pedagang, PNS, buruh, wiraswasta).
  • Tingkat literasi digital orang tua bervariasi; beberapa keluarga masih mudah terpengaruh berita bohong dari grup WhatsApp.
  • Akses internet cukup baik karena lokasi sekolah berada di tengah kota; hampir semua siswa memiliki gawai pribadi.

Tantangan: Meningkatkan kesadaran bahwa hoaks tidak hanya menyasar kalangan rendah literasi, tetapi bisa memengaruhi siapa saja yang tidak berpikir kritis.

 

4. Aspek Kebutuhan Belajar

  • Siswa membutuhkan:
    • Pemahaman tentang cara kerja hoaks dan disinformasi.
    • Keterampilan membaca kritis, memverifikasi sumber, dan menggunakan media secara bertanggung jawab.
    • Panduan praktis mengenali hoaks serta penggunaan alat bantu seperti Google Fact Check, Turnbackhoax.id, dan Cekfakta.com.
    • Pembiasaan etika digital dan budaya diskusi sehat di ruang digital.

Solusi Pembelajaran: Materi disampaikan dengan metode kolaboratif (diskusi kelompok, debat mini, simulasi penyebaran informasi), dan diarahkan pada proyek nyata (misal: membuat panduan "5 Langkah Cek Fakta").

 

5. Aspek Psikologis dan Emosional

  • Remaja kelas VIII sedang dalam tahap mencari identitas; mereka ingin eksis dan diakui di dunia maya.
  • Rasa percaya diri mereka sering bergantung pada validasi digital (like, komentar, views).
  • Cenderung impulsif membagikan informasi, tanpa menyadari tanggung jawab etisnya.

Pendekatan yang Disarankan: Pembelajaran harus menggugah empati dan menanamkan nilai tanggung jawab digital, bukan sekadar aspek teknis.

 

6. Aspek Keterampilan Teknologi

  • Siswa cukup mahir dalam menggunakan aplikasi pengeditan foto dan video sederhana.
  • Belum banyak yang memahami konsep digital footprint, privasi online, dan jejak rekam digital.

Intervensi: Berikan pelatihan sederhana tentang perlindungan data pribadi, risiko oversharing, dan keamanan akun.

Kesimpulan Singkat:

Siswa kelas VIII SMPN 8 Malang memiliki potensi tinggi untuk mempelajari literasi digital karena sudah terbiasa menggunakan teknologi. Namun mereka perlu diarahkan secara kritis, etis, dan kreatif agar tidak menjadi korban atau pelaku penyebaran hoaks. Pembelajaran kokurikuler perlu didesain berbasis proyek yang membumi, kontekstual, dan menyentuh dinamika sosial siswa.

Materi Pelajaran

Pengetahuan FAKTUAL

  • Definisi hoaks, disinformasi, dan misinformasi dalam konteks media digital.
  • Contoh nyata berita hoaks yang pernah menyebar di masyarakat dan dampaknya.
  • Pengetahuan dasar tentang platform pemeriksa fakta seperti TurnBackHoax.id, Google Fact Check, dan cara kerja algoritma media sosial.

Kaitannya dengan kehidupan sehari-hari:
Peserta didik dapat mengenali ciri-ciri berita bohong yang sering beredar di grup media sosial keluarga atau teman, serta memahami pentingnya memverifikasi informasi sebelum membagikannya ke orang lain.

 

Pengetahuan KONSEPTUAL

  • Konsep literasi digital sebagai kemampuan berpikir kritis, bertanggung jawab, dan etis dalam mengakses serta membagikan informasi.
  • Prinsip-prinsip etika digital seperti menghormati privasi, menghindari ujaran kebencian, dan mendorong budaya digital yang sehat.
  • Pemahaman bahwa media sosial memiliki kekuatan membentuk opini publik dan perilaku sosial, sehingga pengguna harus bersikap bijak dan sadar dampak.

Kaitannya dengan kehidupan sehari-hari:
Siswa memahami bahwa membagikan informasi palsu dapat merugikan orang lain, menciptakan kepanikan, bahkan menyebabkan konflik. Mereka belajar bahwa menjadi pengguna media yang bijak adalah bagian dari tanggung jawab sosial.

 

Pengetahuan PROSEDURAL

  • Langkah-langkah melakukan pengecekan fakta secara mandiri menggunakan berbagai alat daring.
  • Cara membuat konten digital edukatif (infografis, video singkat, poster digital) tentang literasi digital dan anti-hoaks.
  • Prosedur menyusun dan melaksanakan kampanye digital di lingkungan sekolah, seperti “Gerakan Saring Sebelum Sharing” atau “Zona Sekolah Bebas Hoaks”.

Kaitannya dengan kehidupan sehari-hari:
Siswa mampu membuat aksi nyata seperti kampanye kelas anti-hoaks di media sosial sekolah, membuat vlog edukatif tentang dampak hoaks, atau mendesain panduan digital etis untuk lingkungan keluarga dan sekolah.

 

Dimensi Profil Lulusan (DPL)

Pilihlah dimensi profil lulusan yang akan dicapai dalam pembelajaran

 

         DPL 1 

Keimanan dan ketakwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa                     

 

         DPL 2

Kewargaan                      

 

         DPL 3

Penalaran Kritis

 

         DPL 4

Kreativitas

 

         DPL 5

Kolaborasi

 

         DPL 6

Kemandirian

 

         DPL 7

Kesehatan

 

         DPL 8

         Komunikasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DESAIN PEMBELAJARAN

Lintas Disiplin Ilmu

Lintas Disiplin Ilmu (Antarmata Pelajaran)

Bidang Studi

Kontribusi Materi

Aktivitas Pembelajaran

Kompetensi yang Dikembangkan

IPS

- Dampak sosial hoaks
- Peran media dalam masyarakat
- Etika dan tanggung jawab digital

- Analisis kasus hoaks di masyarakat sekitar
- Diskusi kelompok tentang dampak hoaks

- Literasi media
- Kepedulian sosial
- Pemahaman hubungan sosial dan informasi

Bahasa Indonesia

- Menyimak dan menulis teks eksposisi dan persuasi
- Analisis bahasa provokatif pada hoaks

- Membuat teks kampanye anti-hoaks
- Menganalisis struktur dan bahasa teks hoaks

- Kecakapan berbahasa
- Berpikir kritis terhadap isi teks

PPKn

- Nilai etika dalam bermedia
- Hak dan kewajiban warga negara dalam ruang digital

- Debat mini tentang kebebasan berpendapat vs penyebaran hoaks
- Simulasi etika digital

- Tanggung jawab sosial
- Etika bermedia
- Wawasan kebangsaan

Informatika/TIK

- Penggunaan alat cek fakta digital
- Keamanan digital dan privasi

- Praktik pengecekan berita melalui situs resmi
- Simulasi digital footprint

- Literasi digital
- Keamanan siber
- Keterampilan menggunakan TIK secara etis

Seni Budaya

- Desain media kampanye kreatif (poster, video, animasi)

- Membuat poster atau video animasi tentang bijak bermedia

- Ekspresi kreatif
- Komunikasi visual
- Kolaborasi dalam media digital

Bahasa Inggris

- Literasi media internasional
- Membaca teks berita dari sumber global

- Menganalisis hoaks internasional sederhana
- Menulis caption/posting anti-hoaks dalam bahasa Inggris

- Kemampuan bahasa asing
- Kritis terhadap informasi global

Matematika

- Statistik dan grafik penyebaran hoaks

- Membuat diagram batang atau pie chart tentang data penyebaran hoaks di media sosial

- Interpretasi data
- Visualisasi informasi untuk mendukung argumen

Tujuan Pembelajaran

Tujuan Pembelajaran:

  1. Siswa dapat menjelaskan pengertian hoaks, misinformasi, dan disinformasi secara tepat.
  2. Siswa dapat mengidentifikasi minimal 3 ciri informasi hoaks yang sering muncul di media sosial.
  3. Siswa dapat melakukan pengecekan fakta sederhana menggunakan minimal 2 situs cek fakta resmi.
  4. Siswa dapat membuat satu produk kampanye digital (poster, video pendek, atau infografis) bertema anti-hoaks.
  5. Siswa dapat menyampaikan hasil kampanye digital secara lisan atau tertulis kepada warga sekolah dengan percaya diri dan bertanggung jawab.

 

Topik Pembelajaran

Topik-Topik Utama yang Relevan:

  1. Kenali Hoaks Sejak Dini: Fakta vs Opini di Media Sosial
     Fokus: Mengenali perbedaan informasi faktual dan opini yang menyesatkan.
  2. Saring Sebelum Sharing: Etika dan Tanggung Jawab di Dunia Digital
    Fokus: Menumbuhkan kesadaran etika dalam menyebarkan informasi secara bijak.
  3. Jejak Digital Tak Pernah Hilang: Lindungi Privasimu!
    Fokus: Memahami pentingnya menjaga data pribadi dan dampak jejak digital.
  4. Klik Cerdas: Cara Memverifikasi Informasi Secara Mandiri
    Fokus: Melatih keterampilan menggunakan alat dan situs pengecek fakta.
  5. Kampanye Positif: Suarakan Literasi Digital di Sekolahmu
    Fokus: Membuat proyek kreatif seperti poster, video, atau kampanye anti-hoaks di media sosial.
  6. Viral Tapi Bohong: Mengapa Kita Harus Peduli?
    Fokus: Menganalisis dampak hoaks terhadap masyarakat dan diri sendiri.
  7. Algoritma dan Filter Bubble: Siapa yang Mengendalikan Informasimu?
    Fokus: Memahami cara kerja media sosial dalam membentuk opini pengguna.

 

Praktik Pedagogis

Model Pembelajaran

Project Based Learning (PjBL)
→ Mendorong siswa berpikir kritis, menyelidiki permasalahan hoaks, dan menghasilkan produk nyata seperti kampanye digital.

 

Strategi Pembelajaran

Problem-Based Learning (PBL)
→ Siswa diajak menyelesaikan masalah nyata seperti hoaks yang beredar di sekitar mereka, dengan pendekatan kolaboratif dan reflektif.

 

Metode Pembelajaran

  1. Diskusi Kelompok
    → Melatih komunikasi, kerja sama, dan pertukaran pendapat secara kritis.
  2. Simulasi dan Role Play
    → Memberikan pengalaman menggembirakan dan mendalam, misalnya simulasi penyebaran hoaks dan dampaknya.
  3. Analisis Kasus (Case Study)
    → Menganalisis kasus nyata hoaks di masyarakat, membangun nalar kritis.
  4. Kreasi Media Digital (Poster/Vlog/Infografis)
    → Mendorong kreativitas dalam menyampaikan pesan literasi digital.

 

Keterkaitan dengan 3 Prinsip Pembelajaran Mendalam

  • Berkesadaran: Siswa dilatih mengenali jejak digital dan dampak sosial hoaks secara reflektif.
  • Bermakna: Materi dikaitkan langsung dengan kehidupan nyata dan pengalaman digital siswa.
  • Menggembirakan: Pembelajaran berbasis proyek kreatif (poster, video, kampanye) yang menyenangkan dan kolaboratif.

 

Kemitraan Pembelajaran

1. Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo)

Peran:
Sosialisasi literasi digital kepada siswa, menyediakan narasumber atau modul pelatihan resmi pemerintah.

 

2. Kepolisian (Unit Cyber Crime/Polsek)

Peran:
Memberikan edukasi hukum terkait penyebaran hoaks dan etika berinternet.

 

3. Lembaga Penyiaran atau Media Lokal (TV, Radio, Surat Kabar)

Peran:
Menyediakan ruang untuk publikasi kampanye siswa, berbagi praktik jurnalisme sehat, dan memberi wawasan dunia informasi.

 

4. Dosen/Praktisi Komunikasi, TIK, atau Hukum Media dari Perguruan Tinggi

Contoh: Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang
Peran:
Menjadi narasumber ahli dalam diskusi literasi digital atau pembimbing proyek siswa.

 

5. Orang Tua/Wali Murid

Peran:
Mendukung pendidikan etika digital di rumah, berpartisipasi dalam kegiatan sekolah tentang literasi media.

 

6. Alumni Sekolah yang Bekerja di Bidang Media/IT

Peran:
Memberikan inspirasi, berbagi pengalaman nyata tentang literasi digital di dunia kerja.

 

7. Komunitas Kreatif Digital (Desain Grafis, Konten Kreator Lokal)

Peran:
Membimbing siswa dalam membuat kampanye digital yang menarik dan efektif.

Lingkungan Pembelajaran

1. Ruang Fisik (Lingkungan Belajar Nyata)

  • Ruang Kelas Interaktif
    Didesain untuk diskusi kelompok, debat mini, dan presentasi karya. Dilengkapi papan tulis, proyektor, dan akses listrik untuk gawai.
  • Perpustakaan dan Pojok Literasi Digital
    Dilengkapi buku, artikel, dan media cetak tentang literasi media, serta infografis edukatif tentang hoaks dan etika digital.
  • Ruang Karya atau Sudut Kampanye Sekolah
    Area pamer hasil proyek siswa seperti poster, infografis, dan video kampanye anti-hoaks.
  • Ruang Terbuka Sekolah
    Untuk simulasi atau pertunjukan kreatif, seperti drama pendek tentang dampak hoaks dan literasi media.

 

2. Budaya Belajar (Nilai dan Kebiasaan Belajar)

  • Budaya Literasi Kritis
    Mendorong siswa untuk selalu bertanya, mencari tahu, dan tidak langsung percaya informasi.
  • Budaya Kolaborasi dan Diskusi Terbuka
    Kegiatan belajar berbasis kelompok dengan ruang aman untuk berbagi pendapat tanpa takut salah.
  • Budaya Refleksi dan Etika Digital
    Setiap akhir pembelajaran, siswa diajak merefleksikan sikap bermediasosial mereka dan menilai dampaknya secara etis.
  • Budaya Apresiasi Karya Siswa
    Sekolah memberi penghargaan (misal: “Duta Anti-Hoaks”, “Kelas Digital Cerdas”) agar siswa termotivasi berkontribusi positif.

 

Pemanfaatan Digital

Ruang Virtual (Lingkungan Belajar Digital)

  • Google Classroom / Microsoft Teams / Moodle Sekolah
    Untuk pengumpulan tugas, diskusi online, berbagi sumber belajar, dan kolaborasi antarkelas.
  • Grup WhatsApp / Telegram Khusus Kelas
    Sebagai media koordinasi, berbagi info, dan menyebarkan kampanye siswa secara nyata di komunitas.
  • Media Sosial Sekolah (Instagram, YouTube, Facebook Page)
    Sebagai platform publikasi hasil proyek siswa, seperti vlog edukatif, kampanye digital, atau poster digital anti-hoaks.
  • Situs Web / Blog Sekolah
    Menjadi arsip dan galeri produk pembelajaran yang mendokumentasikan karya siswa dan proses belajar.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENGALAMAN BELAJAR

AWAL (tuliskan prinsip pembelajaran yang digunakan, misal berkesadaran, bermakna, menggembirakan)

1. Penggunaan Aplikasi Cek Fakta Digital (Turnbackhoax.id, Google Fact Check Tools, Cekfakta.com)

Tujuan: Melatih penalaran kritis siswa secara kontekstual dengan memverifikasi informasi nyata dari media sosial atau grup keluarga.
Contoh Aktivitas: Siswa diminta mencari dan menganalisis satu berita viral, lalu membuktikan statusnya hoaks atau fakta menggunakan alat digital.

 

2. Kolaborasi di Google Docs/Slides untuk Proyek Kampanye Digital

Tujuan: Menumbuhkan kerja sama dan komunikasi melalui proyek kolaboratif pembuatan poster digital, slogan anti-hoaks, atau naskah video kampanye.
Contoh Aktivitas: Siswa bekerja dalam kelompok lintas kelas menulis naskah kampanye anti-hoaks di Google Docs dan mempresentasikannya di Google Slides.

 

3. Pemanfaatan Media Sosial Sekolah (Instagram/YouTube) sebagai Wadah Publikasi Karya Siswa

Tujuan: Meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran yang interaktif dan bermakna, dengan menjangkau audiens nyata.
Contoh Aktivitas: Siswa mengunggah video edukasi pendek “Saring Sebelum Sharing” di kanal YouTube sekolah dan berinteraksi dengan komentar audiens.

 

INTI

Pada tahap ini, siswa aktif terlibat dalam pengalaman belajar memahami, mengaplikasi, dan merefleksi. Guru menerapkan prinsip pembelajaran berkesadaran, bermakna, menyenangkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pengalaman belajar tidak harus dilaksanakan dalam satu kali pertemuan.

Memahami (Bermakna, Berkesadaran)

Tujuan: Membantu siswa memahami konsep hoaks, literasi digital, dan etika bermedia sosial.

Aktivitas:

  • Mindful Reading (10 menit):
    Siswa membaca teks pendek/artikel “Apa itu Hoaks dan Mengapa Kita Harus Waspada?” secara silent reading.
    Guru memandu dengan instruksi berkesadaran: tarik napas, baca perlahan, pahami maksud isi.
  • Diskusi Bermakna (15 menit):
    Guru memantik pertanyaan:
    “Apa perbedaan informasi, opini, dan hoaks?”
    “Bagaimana cara memverifikasi informasi?”
    Siswa diskusi berpasangan (think-pair-share), lalu menyampaikan pendapatnya ke kelas.
  • Mini Kuis Interaktif (15 menit):
    Menggunakan Kahoot / Quizizz: siswa menjawab soal faktual dan konseptual terkait hoaks dan literasi digital.
    Memberi kesan kompetitif dan menggembirakan.

Mengaplikasi (Menggembirakan)

Tujuan: Melatih kemampuan berpikir kritis dan kreativitas siswa dalam memecahkan masalah nyata terkait hoaks.

Aktivitas:

  • Analisis Kasus Nyata (20 menit):
    Guru memberikan 2 contoh konten: satu hoaks dan satu informasi benar (misalnya unggahan media sosial).
    Tiap kelompok menganalisis menggunakan format “Cek Fakta Mandiri” (judul, sumber, isi, logika, dan verifikasi).
  • Proyek Mini: Poster Edukasi Anti-Hoaks (30 menit):
    Siswa membuat poster digital atau manual dalam kelompok dengan pesan edukatif:
    “Tips Cerdas Bermedia”, “Stop Sebarkan Hoaks!”, atau “Cek Dulu Sebelum Share”.
    Diberi kebebasan visual sesuai kreativitas masing-masing kelompok.
  • Presentasi Interaktif (10 menit):
    Tiap kelompok mempresentasikan hasil posternya secara singkat dan komunikatif (maks. 2 menit/kelompok), diselingi tepuk tangan atau apresiasi dari teman.

Merefleksi (Berkesadaran)

Tujuan: Menumbuhkan kesadaran diri siswa terhadap pentingnya literasi digital dan sikap bertanggung jawab di dunia maya.

Aktivitas:

  • Refleksi Personal (10 menit):
    Siswa menuliskan di kertas atau Google Form:
    • Apa informasi penting yang saya pelajari hari ini?
    • Apa yang akan saya ubah dalam cara saya bermedia sosial mulai sekarang?
  • Diskusi Renungan (10 menit):
    Guru memilih beberapa jawaban siswa secara anonim untuk dibaca dan dibahas.
    Pertanyaan pemantik:
    “Apakah kamu pernah menyebarkan informasi tanpa mengecek kebenarannya? Apa akibatnya?”
  • Peneguhan & Komitmen (15 menit):
    Guru menutup dengan video singkat (motivatif) atau kutipan inspiratif.
    Siswa diajak membuat komitmen tertulis:
    “Mulai hari ini, saya berkomitmen untuk menjadi pelajar bijak dalam bermedia digital dengan cara…”

 

 Catatan:

  • Suasana kelas dijaga hangat, terbuka, dan partisipatif.
  • Guru mengajak siswa untuk hadir secara sadar (mindful), belajar dengan tujuan yang bermakna, dan dibuat senang dalam setiap proses.

 

PENUTUP (berkesadaran, bermakna) 5 menit

1. Refleksi Materi (5 menit)

Tujuan: Mengajak siswa merenungi kembali isi utama materi secara ringkas dan sadar.

Langkah:

  • Guru menayangkan/membacakan beberapa pertanyaan reflektif:

“Apa 3 hal baru yang kamu pelajari hari ini?”
“Apa 2 informasi yang membuatmu lebih bijak bermedia?”
“Apa 1 kebiasaan digital yang ingin kamu ubah mulai hari ini?”

  • Siswa menjawab secara tertulis di kertas atau Google Form, lalu dapat berbagi secara sukarela.

 

2. Refleksi Akhir Pembelajaran (5 menit)

Tujuan: Mengevaluasi proses dan perasaan siswa terhadap pembelajaran.

Langkah:

  • Guru bertanya secara terbuka:

“Bagaimana perasaanmu selama pembelajaran ini?”
“Apa yang membuat pembelajaran hari ini menyenangkan atau menantang?”

  • Siswa menjawab dengan satu kata/frasa (secara lisan, atau di sticky notes/mentimeter) dan guru merespons dengan apresiatif.

 

3. Motivasi Penutup (3–5 menit)

Tujuan: Memberikan semangat dan kesadaran berkelanjutan dalam bersikap bijak di era digital.

Langkah:

  • Guru menyampaikan kutipan inspiratif, misalnya:

"Jempolmu menentukan nasib bangsa. Jangan biarkan informasi bohong menyebar karena kelalaianmu."
"Di era digital, yang cepat belum tentu benar. Yang viral belum tentu fakta. Jadilah pelajar yang berpikir sebelum berbagi."

  • Atau menayangkan video singkat motivasi tentang etika bermedia sosial.

 

4. Tugas Pertemuan Berikutnya

Tugas Projek Mandiri (take home / tugas kreatif):

Judul: “Jurnal Literasi Digitalku”
Petunjuk:

  • Selama 3 hari ke depan, siswa membuat jurnal harian berisi:
    • 1 informasi yang ia terima dari media digital.
    • Apakah informasi itu dicek dulu atau langsung dipercayai?
    • Apa refleksi dan sikap yang diambil terhadap informasi itu?

Dikumpulkan: pada pertemuan minggu depan dalam bentuk tulisan tangan, PDF, atau video pendek (boleh kreatif).

 

 

ASESMEN PEMBELAJARAN

Asesmen awal

 

Tujuan Asesmen Awal:

Mengetahui pengetahuan awal, pengalaman pribadi, serta sikap dan kebiasaan bermedia digital peserta didik, guna menyesuaikan pembelajaran dengan tingkat kesiapan mereka.

 

Jenis Asesmen:

Asesmen non-kognitif dan kognitif awal (formatif – tidak untuk nilai akhir)

 

Bentuk Instrumen:

  • Angket singkat (bisa online via Google Form / kertas)
  • Jenis item: pilihan ganda, skala likert sederhana, dan isian singkat

 

5 Pertanyaan/Pernyataan Asesmen:

  1. (Skala Sikap – Skala 1–5)

"Saya biasa mengecek kebenaran informasi sebelum membagikannya ke media sosial."
(1: Tidak Pernah – 5: Selalu)

  1. (Isian Singkat)

Sebutkan satu contoh berita yang kamu pernah lihat atau terima yang ternyata adalah hoaks.

  1. (Pilihan Ganda)

Manakah dari situs berikut ini yang paling tidak bisa dijadikan sumber terpercaya tanpa verifikasi lebih lanjut?
A. Website pemerintah
B. Situs berita resmi
C. Grup WhatsApp keluarga
D. Portal edukasi nasional

  1. (Pernyataan – Skala Likert)

"Saya merasa percaya diri menyaring informasi di media sosial dan internet."
(1: Sangat Tidak Setuju – 5: Sangat Setuju)

  1. (Isian Singkat / Reflektif)

Menurutmu, mengapa hoaks bisa menyebar begitu cepat di masyarakat?

 

Cara Penggunaan Hasil:

  • Mengidentifikasi siswa yang belum sadar akan bahaya hoaks atau belum memahami literasi digital, untuk diberikan penguatan di awal pembelajaran.
  • Merancang strategi pembelajaran yang sesuai tingkat kesiapan siswa (misalnya, diskusi, simulasi, atau studi kasus nyata).

 

Asesmen proses  Pembelajaran

Tujuan Asesmen Formatif:

Menilai sejauh mana peserta didik memahami materi, mampu berpikir kritis, dan mulai menerapkan sikap literasi digital dalam proses pembelajaran.

 

Jenis Asesmen:

  • Observasi aktivitas dan partisipasi
  • Produk/hasil tugas diskusi
  • Pertanyaan pemicu refleksi
  • Jurnal/refleksi individu singkat

 

Bentuk Instrumen:

1. Checklist Observasi Partisipasi (oleh guru)

No

Nama Siswa

Aktif berdiskusi

Menunjukkan sikap kritis

Menggunakan sumber valid

Membantu teman

1

...

V /  X

V /  X

V /  X

V /  X

2. Lembar Refleksi Harian (Individu)

Jawablah dengan jujur dan singkat:

  • Apa satu hal baru yang kamu pelajari hari ini tentang hoaks atau literasi digital?
  • Apa yang membuatmu tertarik atau penasaran dari materi hari ini?
  • Apakah kamu merasa informasi yang kamu terima hari ini bermanfaat untuk kehidupanmu? Jelaskan.

3. Tugas Diskusi Kelompok (Kinerja/Produk)

Instrumen Penilaian Mini Proyek / Poster Edukasi

Aspek yang Dinilai

Skor (1–5)

Catatan

Isi pesan sesuai tema (anti hoaks)

Kreativitas penyajian

Kualitas informasi/sumber

Kolaborasi antar anggota

4. Pertanyaan Umpan Balik Lisan atau Tertulis

Gunakan pertanyaan pemantik setelah kegiatan memahami atau diskusi:

  • Apa bahaya terbesar dari hoaks menurutmu?
  • Bagaimana caramu mengenali informasi yang bisa dipercaya?

 

Cara Pemanfaatan Hasil:

  • Memberikan umpan balik cepat untuk memperbaiki miskonsepsi.
  • Menyusun penguatan materi atau diferensiasi pembelajaran jika banyak siswa belum memahami.
  • Menumbuhkan refleksi dan keterlibatan aktif dalam proses belajar.

 

Asesmen akhir pembelajaran

Tujuan Asesmen Sumatif

Untuk mengukur sejauh mana peserta didik:

  • Memahami konsep hoaks dan pentingnya literasi digital
  • Dapat berpikir kritis terhadap informasi di media digital
  • Mampu menyampaikan pesan secara kreatif dan komunikatif
  • Menunjukkan sikap bijak dalam menggunakan media digital

 

Jenis Asesmen:

  • Tes Tertulis (Pilihan Ganda & Uraian Singkat)
  • Proyek Mini (Poster/Kampanye Digital Edukasi)
  • Refleksi Diri/Esai Singkat (Sikap dan Nilai)

 

Bentuk Instrumen & Contoh Soal

A. Tes Tertulis (Cognitive)

1. Pilihan Ganda (PG)
Pilih jawaban yang paling tepat!

  1. Berikut ini adalah ciri-ciri hoaks, kecuali …
    A. Tidak mencantumkan sumber yang jelas
    B. Judul provokatif
    C. Disertai data resmi dari pemerintah
    D. Memanfaatkan emosi pembaca
  2. Salah satu cara paling efektif untuk memverifikasi informasi digital adalah …
    A. Membagikan informasi ke semua kontak
    B. Membaca komentar orang lain
    C. Mengecek ke situs resmi atau kredibel
    D. Percaya pada isi pesan yang panjang

2. Uraian Singkat

  • Jelaskan 2 langkah yang bisa kamu lakukan untuk memastikan sebuah informasi bukan hoaks!
  • Mengapa literasi digital penting bagi pelajar di era informasi saat ini?

 

B. Penugasan Proyek Mini (Keterampilan & Kreativitas)

Tugas:
Buatlah poster digital atau kampanye edukatif (dalam bentuk presentasi, infografis, atau video pendek) bertema “Bijak Bermedia: Tolak Hoaks, Sebar Fakta!”

Aspek Penilaian (Rubrik Sederhana):

Aspek

Skor (1–5)

Kesesuaian isi dengan tema

Akurasi & kualitas informasi

Kreativitas & desain

Kemampuan komunikasi pesan

 

C. Esai Reflektif Singkat (Sikap & Nilai)

Topik:
“Tindakan Bijak Saya Saat Menemukan Informasi yang Meragukan di Internet”

Panjang: 1 paragraf (5–7 kalimat)

 

Penggunaan Hasil:

  • Untuk menentukan ketuntasan belajar per siswa
  • Untuk memberikan umpan balik perbaikan pada pembelajaran selanjutnya
  • Untuk merancang tindak lanjut: bimbingan, penguatan, atau showcase karya siswa

 

Asesmen dalam pembelajaran mendalam disesuaikan dengan assessment as learning, assessment for learning, dan assessment of learning. Tentukan metode atau cara yang digunakan secara komprehensif untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik. Contoh: Tes tertulis, Tes lisan, Penilaian Kinerja, Penilaian Proyek, Penilaian Produk, Observasi, Portofolio, Peer Assessment, Self Assessment, penilaian berbasis kelas, dan sebagainya.

 

 

 

 

 

 

 

 

Rubrik Penilaian Diskusi Kelas

Indikator

Skor 4 (Sangat Baik)

Skor 3 (Baik)

Skor 2 (Cukup)

Skor 1 (Perlu Bimbingan)

Keaktifan Bertanya

Bertanya kritis, berbobot, dan relevan lebih dari 2 kali

Bertanya relevan dan menunjukkan pemahaman 1–2 kali

Bertanya meskipun kurang fokus/relevan

Tidak bertanya sama sekali

Kerja Sama

Aktif bekerja sama, mendukung kelompok, menghargai pendapat anggota lain

Bekerja sama dengan baik, mendengarkan dan memberikan kontribusi

Terlibat sebagian, tetapi kurang mendengarkan atau mendukung

Tidak bekerja sama dan tidak menghargai pendapat orang lain

Kreativitas Ide

Menyampaikan ide unik, solusi baru, dan menyajikan secara menarik

Menyampaikan ide dengan cukup menarik dan orisinal

Ide disampaikan biasa saja, kurang bervariasi

Ide kurang jelas, mengulang dari orang lain atau tidak relevan

Kejelasan Komunikasi

Menyampaikan argumen dengan sangat jelas, runtut, dan meyakinkan

Menyampaikan argumen cukup jelas dan mudah dipahami

Menyampaikan dengan kurang terstruktur, kadang tidak dipahami

Sulit dipahami, tidak fokus, atau terlalu singkat


Skor Total Maksimum: 16

Konversi Nilai Akhir (Opsional):

  • 14–16 = Sangat Baik
  • 11–13 = Baik
  • 8–10 = Cukup
  • ≤ 7 = Perlu Bimbingan

 

 

Mengetahui,

Kepala SMP Negeri 8 Malang

 

 

Sri Nuryani M.Pd.

NIP. 19661116 199003 2 009            

 

 

 

Malang,   14 April  2025

Guru Mata Pelajaran

 

Drs Sumarno.

NIP. 1966308 200501 1 006

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LKPD

 

Tema               : Anti Hoaks dan Literasi Digital: Bijak Bermedia di Era Informasi

Kelas               : VIII

Durasi             : 135 Menit

Kompetensi     :

  • Mengidentifikasi ciri-ciri hoaks dan informasi yang kredibel.
  • Mengembangkan sikap bijak dalam bermedia sosial dan digital.
  • Berpikir kritis, kreatif, dan komunikatif dalam menyampaikan opini.

 

A. Tujuan Pembelajaran

Setelah kegiatan ini, peserta didik mampu:

  1. Menganalisis ciri-ciri hoaks secara kritis.
  2. Mengembangkan pemahaman bermakna terhadap dampak hoaks.
  3. Berkolaborasi dan berkomunikasi aktif dalam menyusun kampanye literasi digital yang menyenangkan.

 

B. Kegiatan 1: Orientasi dan Apersepsi (10 menit)

Diskusi Kelas - Brainstorming
 Pertanyaan pemantik:

  1. Apa yang dimaksud dengan hoaks?
  2. Apakah kamu pernah menerima atau menyebarkan informasi yang ternyata tidak benar?
  3. Menurutmu, mengapa banyak siswa mudah percaya dengan hoaks?

Tuliskan jawabannya di buku catatan kelompokmu dan siapkan untuk berbagi secara lisan.

 

C. Kegiatan 2: Memahami (40 menit)

Aktivitas: Analisis Berita – Fakta atau Hoaks?
Petunjuk:
Bacalah dua potongan berita berikut (disediakan guru atau melalui link QR) dan diskusikan dalam kelompok.

Tugas Kelompok:

  1. Tandai ciri-ciri yang menunjukkan bahwa informasi itu hoaks.
  2. Apa akibat jika berita tersebut disebarluaskan di grup WhatsApp keluarga/sekolah?
  3. Buatlah kesimpulan tentang pentingnya mengecek kebenaran informasi.

 

No

Judul Berita

Ciri Hoaks

Potensi Dampak

Kesimpulan

1

...

...

...

...

2

...

...

...

...

 

D. Kegiatan 3: Mengaplikasi (45 menit)

Tugas Proyek Mini Kelompok: Desain Kampanye Anti-Hoaks

 Konteks SMPN 8 Malang: Banyak siswa aktif di grup WhatsApp kelas, Instagram, dan TikTok.

Instruksi:

Buatlah produk kampanye digital "Bijak Bermedia di SMPN 8 Malang" yang memuat:

  • Slogan menarik dan edukatif.
  • Poster digital (canva/manual) atau konten narasi singkat (reels/video pendek max. 1 menit).
  • 3 tips praktis memverifikasi informasi hoaks.

Produk bisa dibuat di HP/laptop dan dipresentasikan ke kelas.

Pastikan konten menggugah, komunikatif, dan mudah dipahami teman sebayamu.

 

E. Kegiatan 4: Refleksi dan Penutup (20 menit)

Refleksi Individu – Jurnal Mini
Tuliskan dalam 5–7 kalimat:

  1. Apa hal baru yang kamu pelajari hari ini?
  2. Bagaimana perasaanmu setelah memahami dampak hoaks?
  3. Apa yang akan kamu lakukan jika menerima informasi mencurigakan di media sosial?

 

F.  Quiz Digital (Opsional)

Gunakan Google Form atau Quizizz yang berisi 5 pertanyaan untuk menguji pemahaman siswa secara ringan dan menyenangkan.

 

G. Penilaian (Terlampir Rubrik Diskusi + Kriteria Produk Kampanye)

  • Kreativitas desain
  • Isi dan pesan kampanye
  • Kolaborasi kelompok
  • Presentasi dan komunikasi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

LKPD  2 – Literasi Digital dan Anti Hoaks

 

Mata Pelajaran            : Integrasi berbagai bidang studi

Kelas                           : VIII SMPN 8 Malang

Waktu                         :  5 JP (90–135 menit)

Model Pembelajaran   : Kolaboratif dan Berbasis Proyek

 

 Tujuan Pembelajaran

Setelah mengikuti kegiatan ini, peserta didik mampu:

1.     Mengidentifikasi ciri-ciri hoaks dan informasi kredibel.

2.     Menganalisis dampak hoaks dalam kehidupan sehari-hari.

3.     Bekerja sama membuat kampanye digital anti hoaks yang komunikatif dan kreatif.

 

Kegiatan A: Diskusi Kelompok “Kenali Hoaks”

Langkah-langkah:

  1. Bacalah 2 contoh informasi/berita yang dibagikan oleh guru (boleh cetak atau dari media sosial).
  2. Diskusikan dalam kelompok:
    • Apakah informasi tersebut termasuk hoaks? Mengapa?
    • Ciri-ciri hoaks apa yang terlihat?
    • Apa bahaya jika informasi tersebut dibagikan di grup WhatsApp keluarga atau sekolah?
  3. Tuliskan hasil diskusimu pada tabel berikut:

Informasi

Hoaks / Bukan

Ciri-Ciri Hoaks

Potensi Bahaya

Kesimpulan

Info 1

Info 2

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Presentasikan hasil diskusi ke kelas (3 menit per kelompok).

 

Kegiatan B: Proyek Mini – Kampanye Digital “Bijak Bermedia”

Petunjuk Proyek:

Tujuan: Menciptakan kampanye edukatif yang mendorong teman sebaya untuk tidak mudah percaya dan menyebarkan hoaks.

Langkah-langkah:

  1. Tentukan nama kelompok dan peran anggota (penulis naskah, desainer, editor, dll).
  2. Pilih salah satu bentuk kampanye:
    • Poster digital (Canva / kertas A3)
    • Komik edukatif
    • Video pendek (TikTok / Reels max 1 menit)
    • Infografis “3 Langkah Cek Hoaks”
  3. Kampanye kalian harus memuat:
    • Slogan orisinal yang menggugah.
    • 3 Tips Cek Fakta (gunakan situs seperti cekfakta.com, TurnBackHoax, Google Reverse Image, dll).
    • Contoh situasi nyata yang bisa terjadi di sekolah (misalnya: berita siswa dikeluarkan, isu ulangan bocor, dll).
  4. Kumpulkan dan presentasikan hasil proyek kepada kelas.

 

Kegiatan C: Refleksi Individu – Jurnal Literasi Digital

Tuliskan jawabanmu di buku masing-masing (boleh ditulis tangan/digital):

  • Apa informasi paling mengejutkan yang kamu pelajari hari ini?
  • Apa yang akan kamu lakukan jika menerima berita mencurigakan di grup kelas?
  • Jika kamu bisa menyampaikan satu pesan kepada seluruh siswa SMPN 8 Malang, apa yang akan kamu sampaikan terkait hoaks?

 

Penilaian Proyek dan Diskusi (Ringkasan Rubrik):

Aspek

Skor 1

Skor 2

Skor 3

Skor 4

Keaktifan Diskusi

Pasif

Kurang aktif

Aktif

Sangat aktif dan memimpin

Kerja Sama

Tidak bekerja sama

Kurang bekerja sama

Kompak

Sangat kompak dan saling membantu

Kreativitas Proyek

Kurang ide

Ide sederhana

Ide menarik

Ide sangat kreatif dan orisinal

Isi Kampanye

Tidak relevan

Cukup relevan

Relevan dan informatif

Sangat relevan dan menyentuh konteks nyata

Presentasi

Tidak jelas

Kurang jelas

Cukup jelas

Sangat jelas, komunikatif dan meyakinkan

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PERENCANAAN KEGIATAN KOKURIKULER INTEGRASI ANTAR BIDANG STUDI tema Aku Bangga Jadi Anak Indonesia

  PERENCANAAN KEGIATAN KOKURIKULER INTEGRASI ANTAR BIDANG STUDI   SEKOLAH                                       : SMPN 8 Malang INTE...