|
IDENTIFIKASI
|
Peserta
Didik
|
Identifikasi Kesiapan
Belajar Kokurikuler Peserta Didik
Sekolah: SMPN 8
Malang
Tema: Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa Indonesia
Judul Kegiatan: Parade Budaya Nusantara & Warung Pangan
Tradisional
Konteks Lingkungan: Sekolah berada di kawasan tengah kota Malang,
dikelilingi oleh masyarakat dengan latar belakang sosial, budaya, ekonomi
yang beragam.
1. Pengetahuan Awal Peserta
Didik
- Umumnya telah mengenal keberagaman budaya
Nusantara dari pelajaran IPS dan Bahasa Indonesia,
seperti nama-nama daerah, pakaian adat, dan makanan khas.
- Sebagian siswa pernah mengikuti kegiatan
peringatan Hari Sumpah Pemuda atau Hari Kemerdekaan, tetapi belum mendalam
dalam memahami makna “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa.”
- Sebagian siswa memiliki pengalaman terbatas
mengenal budaya lokal di luar budaya asalnya,
terutama karena tinggal di lingkungan urban yang cenderung homogen
secara praktik kebudayaan sehari-hari.
2. Minat dan Antusiasme
Peserta Didik
- Tinggi terhadap kegiatan yang bersifat
performatif dan kreatif, seperti parade, pentas seni, lomba busana
adat, dan bazar makanan.
- Minat juga tinggi terhadap kuliner tradisional dan
eksplorasi makanan khas daerah, apalagi jika terlibat langsung dalam
proses pembuatan atau penjualannya (simulasi warung tradisional).
- Tertarik pada pengalaman kolaboratif dan kerja
kelompok, terutama jika diberi ruang untuk berekspresi,
tampil di depan umum, atau mengunggah dokumentasi ke media sosial
sekolah.
3. Latar Belakang Sosial dan
Budaya
- Peserta didik berasal dari berbagai etnis dan
agama, seperti Jawa, Madura, Sunda, Tionghoa, Batak,
dengan variasi budaya keluarga yang beragam (misalnya, tradisi lebaran,
makanan khas, cara berbahasa).
- Sebagian besar hidup di lingkungan perkotaan,
sehingga memiliki akses ke informasi global namun kadang kurang mengenal
budaya tradisional secara langsung.
- Ada siswa yang berasal dari keluarga pedagang,
pekerja swasta, ASN, hingga buruh harian,
menunjukkan keragaman ekonomi yang dapat mempengaruhi keterlibatan dalam
kegiatan (misalnya ketersediaan bahan untuk bazar, akses kostum adat,
dll.)
4. Kebutuhan Belajar
- Kebutuhan akan penguatan nilai-nilai kebangsaan
dan toleransi budaya, terutama di tengah perbedaan latar belakang.
- Butuh stimulasi visual dan praktik langsung,
seperti contoh busana, peta budaya, dan demo kuliner agar lebih memahami
kekayaan budaya Nusantara.
- Kebutuhan akan pembelajaran kolaboratif dan
bermakna, melalui pengalaman nyata yang menghubungkan
pelajaran dengan kehidupan sehari-hari (misal: memasak bersama orang
tua, mewawancarai kakek/nenek tentang makanan adat).
- Butuh fasilitasi dan pendampingan dalam
memahami makna "Persatuan dalam Keberagaman"
secara emosional dan sosial (misalnya melalui diskusi nilai, drama
pendek, atau sesi refleksi).
5. Aspek Tambahan Lainnya
- Tersedianya dukungan dari guru dan orang tua,
terutama untuk menyiapkan kostum, properti, atau makanan khas dalam
kegiatan parade dan warung pangan.
- Lingkungan sekolah mendukung kegiatan budaya,
seperti aula, halaman, dan taman sekolah yang bisa dimanfaatkan untuk
kegiatan pameran dan pentas budaya.
- Dukungan komunitas lokal
seperti kelompok seni, UMKM kuliner, atau tokoh budaya setempat juga
dapat dilibatkan untuk memperkuat kegiatan.
Simpulan Umum Kesiapan:
Secara umum, peserta didik memiliki kesiapan yang
cukup baik untuk mengikuti kegiatan kokurikuler Parade Budaya
Nusantara & Warung Pangan Tradisional. Mereka memiliki pengetahuan
awal dasar, minat yang tinggi, dan berasal dari latar belakang yang mendukung
terjadinya pertukaran pengalaman budaya. Namun demikian, perlu diberikan pemantik
pembelajaran kontekstual, pelatihan keterampilan praktis, dan fasilitasi
kesetaraan partisipasi, agar seluruh siswa dapat merasakan manfaat
pembelajaran lintas budaya yang menyenangkan dan mendalam.
|
|
Materi
Pelajaran
|
1. Pengetahuan FAKTUAL
Isi Materi:
- Definisi dasar tentang Sumpah Pemuda dan
isi ikrarnya (1928): “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa Indonesia”.
- Nama-nama dan ciri khas budaya dari berbagai
daerah di Indonesia (pakaian adat, rumah adat, lagu daerah, tarian
daerah, makanan khas).
- Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan
pemersatu bangsa.
- Fakta tentang keberagaman suku, agama, dan
budaya di Indonesia.
Kaitannya dengan Kehidupan
Sehari-hari:
- Siswa dapat mengenali keberagaman budaya dari
teman-temannya di sekolah yang berasal dari latar belakang berbeda.
- Siswa mampu menyebutkan contoh budaya lokal
maupun budaya daerah lain yang pernah mereka lihat di media, keluarga,
atau masyarakat.
- Siswa terbiasa menggunakan Bahasa Indonesia
dalam komunikasi sehari-hari dengan teman dari latar belakang yang
berbeda.
2. Pengetahuan KONSEPTUAL
Isi Materi:
- Konsep Persatuan dan Kesatuan dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara.
- Konsep Bhinneka Tunggal Ika: keberagaman
sebagai kekayaan, bukan pemecah belah.
- Fungsi dan peran Bahasa Indonesia dalam
menyatukan bangsa yang multikultural.
- Konsep kebudayaan nasional dan kebudayaan
daerah serta keterkaitannya.
- Konsep toleransi dan gotong royong dalam
masyarakat yang beragam.
Kaitannya dengan Kehidupan
Sehari-hari:
- Siswa memahami bahwa bekerja sama dalam
perbedaan adalah bagian penting dari kehidupan bermasyarakat dan
bersekolah.
- Siswa dapat menjelaskan pentingnya menggunakan
Bahasa Indonesia dalam acara resmi, pelajaran, dan komunikasi nasional.
- Siswa belajar untuk menghargai budaya teman
yang berbeda dan tidak melakukan stereotip atau diskriminasi.
3. Pengetahuan PROSEDURAL
Isi Materi:
- Langkah-langkah menyusun dan menyiapkan Parade
Budaya:
- Menentukan tema budaya daerah yang akan
ditampilkan.
- Menyiapkan kostum dan properti budaya.
- Melatih tarian, lagu, atau pembacaan puisi
bertema nasionalisme.
- Cara menyiapkan dan menyajikan makanan
tradisional dalam kegiatan Warung Pangan Tradisional:
- Menentukan jenis makanan.
- Menyusun bahan, alat, dan langkah pembuatan.
- Menata makanan dengan sentuhan budaya lokal.
- Teknik presentasi, penampilan kelompok, dan
cara menyampaikan makna budaya secara lisan.
Kaitannya dengan Kehidupan
Sehari-hari:
- Siswa belajar bekerja sama dalam tim untuk
merencanakan dan menampilkan budaya daerah secara terorganisasi.
- Siswa memiliki pengalaman langsung dalam
menyusun kegiatan yang mencerminkan budaya bangsa.
- Siswa memperoleh keterampilan praktis (memasak,
menari, berbicara di depan umum) yang berguna dalam kehidupan nyata dan
masa depan.
4. Pengetahuan METAKOGNITIF
Isi Materi:
- Refleksi atas pentingnya menjaga persatuan di
tengah keberagaman.
- Kesadaran diri sebagai bagian dari bangsa
Indonesia yang kaya akan budaya.
- Strategi belajar mengenal budaya: wawancara
keluarga, riset, pengamatan langsung, kerja kelompok.
- Kesadaran terhadap sikap eksklusif, intoleran,
atau meremehkan budaya lain.
- Penilaian terhadap efektivitas kegiatan parade
dan warung tradisional dalam memperkuat semangat kebangsaan.
Kaitannya dengan Kehidupan
Sehari-hari:
- Siswa mampu mengevaluasi sikapnya sendiri dalam
memperlakukan teman yang berbeda latar belakang.
- Siswa memahami pentingnya membuka diri dan
belajar dari budaya lain untuk memperluas wawasan.
- Siswa mampu mengatur strategi belajar budaya
secara mandiri dan kritis untuk memperkuat identitas diri sebagai bagian
dari bangsa Indonesia.
Kesimpulan Umum
Kegiatan Parade Budaya Nusantara & Warung
Pangan Tradisional dapat mengembangkan keempat jenis pengetahuan
secara integratif:
- Faktual: Memperkaya
pengetahuan dasar tentang budaya dan nasionalisme.
- Konseptual: Memahami nilai-nilai
penting bangsa seperti toleransi, persatuan, dan identitas nasional.
- Prosedural: Melatih keterampilan
nyata dalam menyiapkan, menyajikan, dan menampilkan kebudayaan.
- Metakognitif: Membentuk kesadaran,
empati, dan refleksi diri sebagai warga negara yang cinta tanah air dan
menjunjung tinggi keberagaman.
|
|
Dimensi
Profil Lulusan (DPL)
|
Pilihlah
dimensi profil lulusan yang akan dicapai dalam pembelajaran
|
|
|
|
DPL
1
Keimanan dan ketakwaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa
DPL 2
Kewargaan
DPL 3
Penalaran Kritis
DPL 4
Kreativitas
|
DPL 5
Kolaborasi
DPL
6
Kemandirian
DPL
7
Kesehatan
DPL 8
Komunikasi
|
|
|
DESAIN PEMBELAJARAN
|
Lintas
Disiplin Ilmu
|
1. Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn)
- Materi Terkait:
Nilai-nilai kebangsaan, persatuan dalam keberagaman, hak dan kewajiban
warga negara, Bhineka Tunggal Ika.
- Kontribusi: Membentuk kesadaran
kebangsaan dan semangat hidup bersama dalam perbedaan melalui pemahaman
nilai-nilai Pancasila.
- Aktivitas: Diskusi makna Sumpah
Pemuda, membuat deklarasi “Kami Anak Bangsa”, dan menyusun kode etik
parade budaya sebagai wujud toleransi dan persatuan.
2. Bahasa
Indonesia
- Materi Terkait:
Menulis teks deskripsi, laporan, puisi, pidato, dan cerpen bertema
budaya dan nasionalisme.
- Kontribusi: Mengembangkan
keterampilan berbahasa dan berpikir kritis melalui ekspresi kebudayaan
dan nilai kebangsaan.
- Aktivitas: Menulis puisi tentang
keragaman budaya, membuat pidato pembukaan parade, atau menulis artikel
pendek tentang makanan tradisional dari berbagai daerah.
3. Seni Budaya
- Materi Terkait:
Tarian tradisional, musik daerah, kostum adat, dan desain visual budaya.
- Kontribusi: Menyalurkan ekspresi
cinta budaya dan memperkuat identitas nasional melalui seni pertunjukan
dan visual.
- Aktivitas: Menampilkan tarian
daerah, mendesain poster atau dekorasi parade, membuat pertunjukan mini
budaya, serta menyiapkan kostum khas dari berbagai daerah.
4. Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS)
- Materi Terkait:
Keragaman sosial dan budaya Indonesia, sejarah Sumpah Pemuda, peran
budaya dalam membangun identitas nasional.
- Kontribusi: Memberikan pemahaman
kontekstual tentang sejarah dan keragaman budaya sebagai landasan
kehidupan bersama.
- Aktivitas: Penelitian sederhana
tentang budaya daerah, membuat peta budaya Indonesia, dan menyusun
profil budaya untuk stan Warung Pangan Tradisional.
5. Prakarya
dan Kewirausahaan (PKWU)
- Materi Terkait:
Pengolahan bahan makanan lokal, penyajian makanan, kewirausahaan
berbasis budaya.
- Kontribusi: Membangun keterampilan
hidup dan sikap wirausaha melalui pengenalan makanan tradisional daerah.
- Aktivitas: Merancang menu makanan
tradisional, membuat dan menyajikan makanan khas daerah, menghitung
biaya dan hasil penjualan dalam Warung Pangan Tradisional.
6. Bahasa
Daerah / Muatan Lokal
- Materi Terkait:
Lagu daerah, pantun, ungkapan budaya lisan.
- Kontribusi: Melestarikan bahasa
daerah sebagai identitas budaya dan memperkaya semangat kebhinekaan.
- Aktivitas: Menyanyikan lagu
daerah saat parade, membuat pantun dalam bahasa daerah, memperkenalkan
kosa kata lokal dari makanan khas.
7. Informatika
(TIK)
- Materi Terkait:
Desain poster digital, publikasi digital, dokumentasi kegiatan.
- Kontribusi: Mengembangkan
keterampilan digital dalam mempromosikan dan mendokumentasikan
kebudayaan.
- Aktivitas: Mendesain undangan
digital parade budaya, membuat poster digital profil budaya daerah,
mendokumentasikan kegiatan parade dan warung secara video atau foto.
|
|
Tujuan
Pembelajaran
|
1. Siswa
mampu menjelaskan makna semboyan “Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa” secara
lisan dan tulisan dengan benar.
2. Siswa
mampu mengidentifikasi dan mempresentasikan minimal satu budaya daerah
Indonesia (tarian, pakaian, atau makanan) secara berkelompok.
3. Siswa
mampu membuat karya seni (poster, puisi, atau dekorasi) yang mencerminkan
semangat persatuan dan kebanggaan terhadap budaya bangsa.
4. Siswa
mampu menyusun dan mengelola stan Warung Pangan Tradisional secara
kolaboratif dengan menyajikan makanan khas daerah dan menghitung biaya
produksinya.
5.
Siswa mampu menunjukkan sikap toleransi, tanggung
jawab, dan kerja sama dalam kegiatan Parade Budaya dan Warung Pangan
Tradisional.
|
|
Topik
Pembelajaran
|
Topik-topik Pembelajaran
- Keanekaragaman Budaya Nusantara: Simbol
Persatuan dalam Kebhinnekaan
- Fokus: Tarian daerah, pakaian adat, musik tradisional,
dan rumah adat sebagai identitas nasional.
- Aktivitas: Riset budaya daerah, membuat
presentasi visual, atau membuat katalog mini budaya Nusantara.
- Pangan Tradisional sebagai Warisan Budaya
- Fokus: Makanan khas daerah sebagai identitas
budaya dan ekonomi lokal.
- Aktivitas: Wawancara dengan pelaku UMKM
makanan tradisional, membuat poster resep makanan khas, praktik memasak
sederhana.
- Bahasa Indonesia: Bahasa Pemersatu Bangsa
- Fokus: Peran Bahasa Indonesia dalam menyatukan
berbagai suku dan budaya.
- Aktivitas: Membuat puisi/pidato bertema
persatuan, mendokumentasikan istilah daerah dan padanannya dalam Bahasa
Indonesia.
- Mengenal Nilai Nasionalisme dan Gotong Royong
dalam Budaya Lokal
- Fokus: Nilai-nilai Pancasila dan semangat
kebersamaan dalam tradisi masyarakat daerah.
- Aktivitas: Studi kasus tradisi lokal (misalnya
gotong royong panen, selamatan), diskusi kelompok, membuat kolase
nilai.
- Kewirausahaan Sosial: Mengembangkan Warung
Pangan Tradisional
- Fokus: Konsep kewirausahaan berbasis budaya
dan pangan lokal.
- Aktivitas: Merancang stan Warung Pangan
Tradisional, menghitung modal dan laba, membuat strategi promosi
sederhana.
- Membuat Parade Budaya Nusantara: Perencanaan,
Produksi, dan Tampilkan
- Fokus: Pengembangan proyek kolaboratif mulai
dari perencanaan, produksi kostum dan pertunjukan, hingga pelaksanaan
parade.
- Aktivitas: Membagi tugas tim (kostum,
pertunjukan, narasi budaya), gladi resik, dan pelaksanaan parade di
sekolah.
|
|
Praktik
Pedagogis
|
MODEL PEMBELAJARAN
Project Based Learning (PjBL)
- Alasan: Mendorong siswa
berpikir kritis dan kreatif dalam menyelesaikan proyek nyata (Parade
Budaya & Warung Pangan).
- Kaitan Profil Pancasila:
Melatih kolaborasi, kreativitas dalam berkarya, dan kemampuan komunikasi
saat presentasi.
STRATEGI PEMBELAJARAN
Discovery Learning + Kolaboratif
- Alasan: Siswa menggali sendiri
informasi budaya dan pangan lokal lalu berdiskusi dalam kelompok lintas
daerah.
- Kaitan: Menumbuhkan kesadaran
akan kekayaan budaya dan pentingnya menghargai perbedaan.
METODE PEMBELAJARAN
- Diskusi Kelompok Interaktif
- Untuk mengembangkan komunikasi, saling
menghargai, dan membangun pemahaman makna budaya.
- Studi Lapangan / Wawancara Mini (jika
memungkinkan)
- Untuk mengaitkan langsung dengan pengalaman
lokal (pedagang tradisional, budayawan, orang tua siswa).
- Simulasi dan Role Play
- Dalam Parade Budaya atau Warung Pangan, siswa
berperan sebagai duta budaya atau pelaku UMKM.
- Presentasi Kreatif dan Pameran Karya
- Untuk menumbuhkan rasa percaya diri, ekspresi
budaya, dan kemampuan berbicara di depan umum.
Penerapan Prinsip:
- Berkesadaran: Siswa diajak
mengenali dan memahami jati diri budaya bangsa serta kontribusi mereka
terhadap pelestariannya.
- Bermakna: Topik budaya dan
pangan dekat dengan kehidupan siswa; mereka merasa relevan dan terlibat
secara emosional.
- Menggembirakan:
Melalui parade, permainan peran, dan eksplorasi makanan, siswa belajar
sambil berekspresi dan bersenang-senang.
|
|
Kemitraan
Pembelajaran
|
1. Orang Tua/Wali Murid
- Peran: Membantu menyiapkan pakaian adat, makanan
tradisional, dan cerita budaya daerah asal keluarga.
- Keterlibatan: Kolaborasi dalam
parade, penyedia makanan khas, menjadi narasumber lokal.
2. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota/Kabupaten
- Peran: Memberi dukungan informasi budaya lokal,
menyediakan narasumber, atau membantu dokumentasi.
- Keterlibatan: Penyuluhan budaya,
mengenalkan kekayaan budaya daerah, memberi sertifikat partisipasi.
3. UMKM Pangan Tradisional / Pasar Tradisional
- Peran: Menjadi mitra dalam mengenalkan jenis pangan
lokal, teknik memasak, dan nilai gizi makanan tradisional.
- Keterlibatan: Demo masak, pameran
makanan, stand edukasi pangan lokal.
4. Sanggar Seni dan Budaya Lokal
- Peran: Memberikan pelatihan tari, musik, dan seni
pertunjukan khas Nusantara.
- Keterlibatan: Latihan pentas budaya,
pengisi acara parade budaya.
5. Komite Sekolah / Komunitas Adat Lokal
- Peran: Menjadi penghubung dengan tokoh masyarakat
atau komunitas yang menjaga tradisi.
- Keterlibatan: Narasumber dalam sesi
refleksi budaya, penyedia bahan budaya dan properti tradisional.
6. Dinas Kesehatan atau Ahli Gizi Lokal
- Peran: Memberikan edukasi tentang nilai gizi pangan
tradisional dan pentingnya menjaga pola makan sehat.
- Keterlibatan: Talkshow, poster
edukatif, diskusi bersama siswa.
7. Media Lokal (TV/Radio/Surat Kabar)
- Peran: Mendokumentasikan dan mempublikasikan kegiatan
siswa.
- Keterlibatan: Menyebarkan semangat
pelestarian budaya lewat media.
8. Alumni Sekolah / Kakak Kelas
- Peran: Mentor proyek atau pemandu parade/pameran
budaya.
- Keterlibatan: Membantu perencanaan
dan evaluasi kegiatan, berbagi inspirasi.
|
|
Lingkungan
Pembelajaran
|
1. Ruang Fisik
Lingkungan nyata yang mendukung aktivitas
eksploratif, kolaboratif, dan kreatif:
- Halaman sekolah/lapangan terbuka:
Untuk kegiatan parade budaya, pertunjukan seni, dan bazar warung pangan
tradisional.
- Ruang kelas yang fleksibel:
Disusun untuk diskusi kelompok, praktik membuat poster budaya, menulis
puisi, atau merancang warung mini.
- Ruang serbaguna/aula:
Untuk latihan pertunjukan seni, pentas budaya, atau pameran hasil karya
siswa.
- Sudut budaya di perpustakaan atau lorong
sekolah:
Menampilkan informasi tentang pakaian adat, makanan tradisional, sejarah
daerah, dan cerita rakyat Nusantara.
2. Budaya Belajar
Nilai dan suasana yang diciptakan dalam proses
pembelajaran agar bermakna, berkesadaran, dan menggembirakan:
- Kolaboratif dan inklusif:
Semua siswa terlibat sesuai dengan potensi dan latar belakang budaya
mereka, tanpa diskriminasi.
- Menghargai keberagaman:
Setiap budaya daerah diperlakukan setara dan dihargai sebagai kekayaan
bangsa.
- Berpikir kritis dan kreatif:
Mendorong siswa untuk tidak hanya menampilkan budaya, tetapi juga
menganalisis makna dan relevansinya dalam kehidupan masa kini.
- Kegembiraan dalam belajar:
Pembelajaran dikemas dalam bentuk proyek, permainan budaya, lomba
kreatif, dan pertunjukan, sehingga siswa menikmati prosesnya.
|
|
Pemanfaatan
Digital
|
1. Padlet/Google Jamboard –
Kolaborasi Ide & Brainstorming Budaya
- Digunakan untuk diskusi kelompok online
terkait:
- Ragam pakaian adat, makanan tradisional, lagu
daerah.
- Ide dekorasi parade atau desain warung budaya.
- Interaktif dan kolaboratif karena siswa bisa
menambahkan komentar, foto, dan referensi secara bersama.
2. Canva/PowerPoint – Desain
Poster Digital & Presentasi Budaya
- Siswa membuat poster digital yang menampilkan
kekayaan budaya daerah (slogan, ilustrasi makanan, atau pakaian adat).
- Menjadi media untuk menyampaikan hasil riset
mereka secara visual menarik.
- Kontekstual karena bisa mencerminkan budaya
lokal dan nasional.
3. Google Sites / Blog Kelas
– Dokumentasi Digital Kegiatan
- Sebagai jurnal digital untuk
mempublikasikan proses dan hasil pembelajaran.
- Siswa dapat mengunggah:
- Video parade budaya.
- Resep pangan tradisional.
- Refleksi pribadi atau kelompok.
- Menumbuhkan literasi digital dan kebanggaan
terhadap budaya Indonesia secara kontekstual.
|
|
PENGALAMAN BELAJAR
|
AWAL (tuliskan
prinsip pembelajaran yang digunakan, misal berkesadaran, bermakna,
menggembirakan)
|
|
Langkah-Langkah Kegiatan Pembuka
1. Orientasi yang Bermakna (5 menit)
- Guru menyapa siswa dengan lagu “Indonesia Raya”
atau cuplikan video pendek tentang keberagaman budaya Nusantara.
- Menyampaikan tujuan pembelajaran: “Hari ini
kita akan menjelajahi kekayaan budaya bangsa dan merayakan kebhinekaan
melalui Parade Budaya dan Warung Pangan Tradisional.”
2. Apersepsi yang Kontekstual (5 menit)
- Guru memancing pengetahuan awal dengan
pertanyaan:
- “Apa makanan khas daerah asal keluargamu?”
- “Pernahkah kamu melihat pertunjukan budaya
daerah seperti reog, tari saman, atau wayang?”
- Menyambungkan pengalaman siswa dengan makna
keberagaman budaya Indonesia.
3. Motivasi yang Menggembirakan (5 menit)
- Guru menunjukkan gambar/foto lucu dan menarik
dari warung tradisional dan parade budaya unik dari berbagai daerah.
- Menyampaikan tantangan: “Kamu akan jadi duta
budaya dan pengusaha mini warung pangan hari ini! Siap?”
- Menyemangati siswa untuk berekspresi,
berkolaborasi, dan menunjukkan kebanggaan sebagai anak Indonesia.
|
|
INTI
|
|
Pada tahap
ini, siswa aktif terlibat dalam pengalaman belajar memahami, mengaplikasi,
dan merefleksi. Guru menerapkan prinsip pembelajaran berkesadaran, bermakna,
menyenangkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pengalaman belajar tidak
harus dilaksanakan dalam satu kali pertemuan.
|
|
Memahami (Bermakna,
Berkesadaran)
|
|
Tahap 1:
Memahami (30 menit)
Tujuan: Siswa
menyadari dan memahami keragaman budaya dan pangan tradisional sebagai
kekayaan bangsa Indonesia.
Aktivitas:
- Menonton
video pendek tentang budaya Nusantara dan pangan lokal dari
berbagai daerah (5 menit).
- Diskusi
kelompok kecil (3–5 orang): siswa membahas:
- Apa
makna "Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa" bagi generasi
muda?
- Apa
pangan tradisional dari daerahmu atau daerah lain yang pernah kamu
coba?
(10 menit)
- Mencatat
hal-hal penting pada lembar refleksi awal, seperti:
- Keragaman
budaya yang mereka temui.
- Sikap
toleransi dan kebanggaan terhadap budaya lokal.
(15 menit)
Prinsip: Mindful
& Meaningful → siswa diajak menyadari nilai budaya secara reflektif dan
terhubung dengan pengalaman pribadi.
|
|
Mengaplikasi
(Menggembirakan)
|
|
Tahap 2:
Mengaplikasi (70 menit)
Tujuan: Siswa mampu menerapkan pemahaman dalam bentuk
ekspresi kreatif dan kolaboratif.
Aktivitas:
- Tugas kelompok (35 menit):
- Setiap kelompok memilih satu
budaya daerah (lengkap dengan pakaian adat, tari/lagu daerah, dan satu
jenis makanan khas).
- Merancang konsep “Parade
Budaya dan Warung Pangan” mini:
- Siapa yang tampil sebagai
penari/penyaji makanan?
- Properti dan narasi budaya
daerah?
- Bahan/makanan lokal yang
ditampilkan?
- Mempersiapkan dekorasi dan
alat peraga sederhana dari barang bekas.
- Simulasi Parade & Warung Pangan Tradisional
(35 menit):
- Setiap kelompok menampilkan
parade budaya dan membuka stand mini warung pangan tradisional.
- Kelompok lain mengunjungi,
bertanya, mencicipi, dan memberikan umpan balik secara lisan.
Prinsip: Joyful & Meaningful → siswa belajar sambil
berkarya, merayakan keberagaman secara kolaboratif.
|
|
Merefleksi (Berkesadaran)
|
|
Tahap 3: Merefleksi (35
menit)
Tujuan: Siswa
mampu mengevaluasi pengalaman belajar dan mengaitkannya dengan nilai-nilai
kebangsaan serta keterampilan abad 21.
Aktivitas:
- Diskusi reflektif kelas:
dipandu pertanyaan:
- Apa tantangan saat bekerjasama dalam kelompok
lintas budaya?
- Apa pelajaran paling berharga dari parade
budaya dan warung pangan tadi?
- Bagaimana kegiatan ini menumbuhkan rasa cinta
tanah air?
- Menulis refleksi pribadi:
siswa menuliskan:
- Apa peran mereka dalam tim?
- Bagaimana cara mereka berkontribusi secara
kreatif dan komunikatif?
- Apa rencana mereka untuk menjaga dan
mempromosikan budaya lokal di masa depan?
Prinsip: Mindful
→ siswa menyadari peran dan potensi dirinya sebagai bagian dari bangsa
Indonesia.
Hasil yang Diharapkan:
- Siswa mampu mengomunikasikan budaya
Nusantara dengan percaya diri.
- Siswa menunjukkan kreativitas dalam
menampilkan budaya dan pangan tradisional.
- Siswa merefleksikan makna kebhinekaan dan
persatuan secara mendalam.
- Siswa terlibat dalam pembelajaran yang kolaboratif,
kontekstual, dan menyenangkan.
|
|
PENUTUP (berkesadaran,
bermakna) 5
menit
|
|
1. Refleksi Materi
Guru memandu siswa melakukan refleksi terhadap isi
pembelajaran hari ini, misalnya melalui pertanyaan pemantik:
- Apa makna dari "Satu Nusa, Satu Bangsa,
Satu Bahasa Indonesia" dalam kehidupanmu?
- Mengapa penting bagi kita untuk mengenal dan
mencintai budaya serta pangan tradisional Nusantara?
- Apa hal paling menarik yang kamu pelajari dari
parade budaya dan warung pangan tradisional tadi?
Siswa dapat menuliskan jawaban di jurnal refleksi
atau dibagikan secara lisan oleh beberapa perwakilan.
2. Refleksi Akhir
Pembelajaran
Ajak siswa menyadari proses belajar yang sudah
mereka jalani hari ini:
- Apa peranmu dalam kelompok dan apa
kontribusimu?
- Bagaimana kamu menunjukkan sikap kerja sama dan
menghargai perbedaan?
- Apa yang ingin kamu perbaiki atau tingkatkan di
pembelajaran selanjutnya?
Gunakan metode refleksi kreatif, seperti:
- Menuliskan satu kata yang mewakili perasaannya
hari ini di kertas warna-warni.
- Membuat diagram “Bintang Belajarku” (isi
dengan: Hal baru, hal favorit, hal menantang, peran saya, pesan moral).
3. Motivasi Penutup
Guru memberi penguatan dengan kutipan inspiratif
atau pesan penyemangat:
“Mencintai budaya sendiri adalah langkah pertama
menjadi bangsa yang besar. Dari keberagaman kita belajar saling memahami,
dari persatuan kita membangun masa depan Indonesia.”
Ajak siswa bangga akan budaya lokal dan perannya
sebagai generasi penerus penjaga warisan bangsa.
4. Tugas Pertemuan
Berikutnya
Tugas Individu:
- Buatlah sebuah esai singkat atau vlog (video
pendek) berjudul:
"Budaya Daerahku, Kebanggaanku"
Isinya: deskripsi budaya atau makanan khas dari daerah masing-masing dan
alasan mengapa harus dilestarikan.
Tugas Kelompok (opsional):
- Merancang poster digital atau selebaran
edukatif yang mempromosikan salah satu budaya atau pangan
tradisional Indonesia, untuk dipamerkan di kelas atau mading sekolah.
|
|
ASESMEN PEMBELAJARAN
|
Asesmen awal
|
|
|
Tujuan Asesmen Awal
- Mengetahui latar belakang pengetahuan, minat,
dan pengalaman siswa terkait budaya Nusantara dan pangan tradisional.
- Mengidentifikasi kesiapan kognitif, afektif,
dan sosial siswa sebelum memasuki pembelajaran mendalam.
- Membantu guru menyesuaikan pendekatan pembelajaran
yang lebih kontekstual dan bermakna.
Jenis dan Bentuk Instrumen
- Jenis: Asesmen Diagnostik / Formatif Awal
- Bentuk Instrumen:
- Angket Kesiapan Belajar
(berisi pernyataan dan pertanyaan pilihan ganda serta isian singkat)
- Mode Pelaksanaan:
- Digital: Google Form / LMS
(misal: Moodle)
- Luring: Lembar cetak /
wawancara ringan / sticky notes reflektif
Contoh Instrumen (5
Pernyataan/Pertanyaan)
Petunjuk: Jawablah
pertanyaan-pertanyaan berikut dengan jujur sesuai pengetahuan dan
pengalamanmu.
- Apa makna semboyan “Satu Nusa, Satu Bangsa,
Satu Bahasa Indonesia” menurut pendapatmu?
(Jawaban isian singkat – mengukur penguasaan konsep awal)
- Sebutkan minimal dua makanan tradisional dari
daerah asalmu atau daerah lain yang kamu ketahui.
(Isian singkat – mengukur keterhubungan siswa dengan tema)
- Seberapa sering kamu mengikuti atau menyaksikan
kegiatan budaya seperti parade, pentas seni, atau bazar kuliner daerah?
- a. Sering
- b. Kadang-kadang
- c. Jarang
- d. Belum Pernah
(Pilihan ganda – mengukur pengalaman dan minat)
- Saya merasa senang jika diminta menampilkan
budaya dari daerah asal saya dalam sebuah kegiatan sekolah.
- a. Sangat Setuju
- b. Setuju
- c. Tidak Setuju
- d. Sangat Tidak Setuju
(Skala Likert – mengukur kesiapan afektif)
- Menurutmu, apa manfaat mempelajari dan
melestarikan budaya serta pangan tradisional Indonesia bagi generasi
muda?
(Isian singkat – mengukur nalar awal/kritis siswa)
|
|
Asesmen proses Pembelajaran
|
Tujuan Asesmen Formatif
- Memantau pemahaman dan partisipasi siswa selama
pembelajaran berlangsung.
- Memberi umpan balik kepada guru dan siswa untuk
memperbaiki proses pembelajaran secara real-time.
- Menumbuhkan keterampilan berpikir kritis,
kolaborasi, dan refleksi siswa.
Jenis dan Bentuk Instrumen
- Jenis: Asesmen Formatif / Proses
- Bentuk Instrumen:
- Observasi dengan rubrik sederhana
- Pertanyaan reflektif saat belajar
- Produk kerja/hasil diskusi kelompok (peta
budaya, katalog pangan)
- Kuis cepat / exit ticket / pertanyaan terbuka
Instrumen Format Simpel
1. Observasi Aktivitas
Kelompok (Guru/Teman Sebaya)
Gunakan lembar ceklist atau
skala rubrik 1–4
|
Indikator
|
Kriteria
1
|
2
|
3
|
4
|
|
Aktif berdiskusi dan
menyumbang ide
|
|
|
|
|
|
Menghargai pendapat teman
|
|
|
|
|
|
Mengaitkan tema budaya
dengan konteks lokal
|
|
|
|
|
|
Berperan dalam menyusun
karya (poster/parade/warung)
|
|
|
|
|
2. Pertanyaan Refleksi
Singkat (Mid-task / setelah diskusi)
Bentuk: Isian
singkat (bisa lisan atau tulis)
- “Apa budaya daerah yang baru kamu ketahui hari
ini?”
- “Apa tantangan yang kamu temui saat menyusun
ide parade budaya?”
- “Bagaimana makanan tradisional mencerminkan
identitas suatu daerah?”
3. Kuis Ringan / Exit Ticket
(menit akhir pembelajaran)
Bentuk: Kuis
tulis/lisan 3–5 soal
Contoh soal:
- Sebutkan satu contoh makanan tradisional dari
wilayah timur Indonesia!
- Mengapa penting untuk menjaga bahasa persatuan
dalam kegiatan budaya?
- Apa dampaknya jika generasi muda melupakan
tradisi dan pangan lokal?
4. Umpan Balik Siswa
(Self/Peer Reflection)
Bentuk: Lembar
pernyataan atau skala Likert
Contoh:
“Hari ini saya belajar
bahwa…”
“Saya merasa terlibat aktif dalam kelompok saya.”
“Saya masih bingung tentang…”
✔ Sangat Setuju / Setuju /
Tidak Setuju / Tidak Paham
|
|
Asesmen akhir pembelajaran
|
Tujuan Asesmen Sumatif
Untuk mengetahui seberapa baik peserta didik:
- Memahami makna persatuan dalam keberagaman
budaya dan pangan lokal Indonesia.
- Mengkomunikasikan gagasan secara kreatif dan
kontekstual melalui presentasi, karya budaya, atau tulisan.
- Mampu bekerja sama dan menunjukkan penalaran
kritis dalam menyusun karya akhir.
Jenis dan Bentuk Instrumen
- Jenis: Asesmen Sumatif (akhir pembelajaran)
- Bentuk Instrumen:
- Tes tertulis (esai/uraian pendek)
- Unjuk kerja/produk
(presentasi kelompok, warung pangan, parade budaya mini)
- Portofolio/karya akhir
(poster, brosur budaya, vlog pendek, dokumentasi makanan tradisional)
- Rubrik penilaian produk dan proses
Instrumen Tertulis (Tes Akhir)
Bentuk: Isian / uraian pendek
(Pilih 3–5 dari soal berikut)
- Jelaskan mengapa semboyan "Satu Nusa, Satu
Bangsa, Satu Bahasa" penting dalam menjaga keutuhan Indonesia!
- Ceritakan satu bentuk keberagaman budaya
daerahmu dan bagaimana itu memperkaya identitas bangsa.
- Jelaskan hubungan antara pangan tradisional dan
budaya daerah asalnya.
- Bagaimana cara generasi muda bisa melestarikan
budaya daerah di era digital?
- Jika kamu menjadi panitia Parade Budaya
Nusantara, apa peranmu dan ide kreatif yang akan kamu usulkan?
Contoh Unjuk Kerja / Karya Proyek
Tugas Akhir:
- Membuat Warung Pangan Tradisional Mini
(display, menu, cerita sejarah makanan)
- Mengadakan Mini Parade Budaya (kostum,
narasi, poster atau alat musik daerah)
- Membuat Brosur/Video yang memperkenalkan
budaya daerah + makanan khas
Contoh Rubrik Penilaian Produk
|
Aspek Dinilai
|
Skor 1 (Kurang)
|
Skor 2 (Cukup)
|
Skor 3 (Baik)
|
Skor 4 (Sangat Baik)
|
|
Kreativitas dan keunikan ide
|
|
|
|
|
|
Relevansi isi dengan tema
|
|
|
|
|
|
Kerja sama dan kolaborasi tim
|
|
|
|
|
|
Kemampuan komunikasi
|
|
|
|
|
|
Penjelasan hubungan budaya–pangan
|
|
|
|
|
|
|
Asesmen
dalam pembelajaran mendalam disesuaikan dengan assessment as learning,
assessment for learning, dan assessment of learning. Tentukan metode atau
cara yang digunakan secara komprehensif untuk mengukur pencapaian kompetensi
peserta didik. Contoh: Tes tertulis, Tes lisan, Penilaian Kinerja, Penilaian
Proyek, Penilaian Produk, Observasi, Portofolio, Peer Assessment, Self
Assessment, penilaian berbasis kelas, dan sebagainya.
|
|
|
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar