|
IDENTIFIKASI
|
Peserta
Didik
|
Identifikasi Kesiapan
Belajar Kokurikuler Peserta Didik SMPN 8 Malang
1. Aspek Pengetahuan Awal
- Mayoritas peserta didik telah mengenal konsep
dasar cinta tanah air dan kegiatan sosial dari pelajaran PPKn, IPS, dan
Pramuka.
- Pengetahuan tentang konsep ekologi,
pengelolaan sampah, dan keberlanjutan lingkungan masih bersifat umum
dan perlu didalami lebih lanjut.
- Beberapa siswa telah terlibat dalam program
Adiwiyata atau OSIS yang mendukung kegiatan peduli lingkungan dan
sosial, namun belum semua siswa memiliki pengalaman praktik langsung.
2. Aspek Minat
- Banyak peserta didik menunjukkan antusiasme
tinggi terhadap kegiatan berbasis aksi nyata, seperti kegiatan bakti
sosial, kampanye digital, atau project lingkungan karena dinilai
menyenangkan, aplikatif, dan bermakna.
- Minat siswa juga muncul pada aspek berkreasi
visual dan komunikasi, seperti membuat poster, video pendek, orasi,
hingga pertunjukan seni bertema cinta tanah air.
- Sebagian siswa juga berminat dalam kegiatan
yang berhubungan dengan penggunaan teknologi dan media sosial,
yang bisa dimanfaatkan dalam kampanye digital (Eco Campaign online).
3. Aspek Latar Belakang
Sosial & Lingkungan
- SMPN 8 Malang berada di kawasan tengah kota
dengan karakteristik:
- Beragam latar belakang keluarga
(sosial-ekonomi menengah ke bawah dan menengah ke atas).
- Lingkungan urban
yang cukup padat namun aktif secara sosial dan budaya.
- Akses terhadap informasi dan teknologi relatif
baik.
- Kondisi ini menciptakan keragaman pengalaman
siswa dalam berinteraksi dengan masyarakat dan isu lingkungan—menjadikan
kegiatan kokurikuler sebagai jembatan penguatan karakter sosial dan
cinta lingkungan.
4. Aspek Kebutuhan Belajar
- Peserta didik membutuhkan:
- Pendekatan yang kontekstual,
menyentuh realitas kehidupan mereka sehari-hari.
- Media dan metode belajar yang interaktif
seperti kerja kelompok, eksplorasi lapangan, dan pemanfaatan
multimedia.
- Peluang untuk mengekspresikan ide dan tindakan
nyata sebagai bagian dari pembelajaran yang
bermakna.
- Pendampingan dalam proses berpikir kritis dan
reflektif, karena belum semua siswa terbiasa
menganalisis isu sosial dan lingkungan secara mendalam.
5. Aspek Kesiapan Emosional
dan Sosial
- Siswa berada dalam tahap perkembangan sosial
yang kuat, senang bekerja dalam kelompok, dan membutuhkan penguatan
empati dan tanggung jawab sosial.
- Beberapa siswa membutuhkan motivasi tambahan
untuk keluar dari zona nyaman dan berinteraksi aktif dengan
lingkungan di luar sekolah (misalnya dalam bakti sosial).
6. Aspek Kesiapan Fisik dan
Logistik
- Secara umum, siswa dalam kondisi sehat dan
dapat mengikuti kegiatan lapangan.
- Sekolah memiliki akses pada fasilitas
pendukung seperti perpustakaan, aula, koneksi internet, dan relasi
dengan mitra masyarakat (misalnya Karang Taruna, Puskesmas, bank
sampah).
|
|
Materi
Pelajaran
|
1. Pengetahuan FAKTUAL
Isi Materi:
- Definisi dasar tentang bakti sosial, volunteering,
dan eco campaign.
- Contoh kegiatan sosial: donasi, layanan
masyarakat, berbagi sembako, membersihkan lingkungan.
- Fakta mengenai permasalahan sosial dan
lingkungan di sekitar: kemiskinan, ketimpangan akses pendidikan, sampah,
polusi, dan deforestasi.
- Fakta Hari Besar Nasional yang relevan: Hari
Sumpah Pemuda, Hari Kemerdekaan, Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
Kaitannya dengan Kehidupan
Sehari-hari:
- Siswa mengenali permasalahan sosial dan
lingkungan di sekitar rumah dan sekolahnya (misal: sampah menumpuk, ada
tetangga yang kekurangan).
- Siswa mulai terbiasa berempati terhadap teman
atau tetangga yang mengalami kesulitan.
- Siswa memahami bahwa kegiatan sederhana seperti
membuang sampah pada tempatnya atau membantu orang tua adalah bagian
dari kontribusi sosial.
2. Pengetahuan KONSEPTUAL
Isi Materi:
- Konsep cinta tanah air dalam bentuk nyata
(tidak hanya simbolik).
- Konsep solidaritas sosial, empati,
dan peduli lingkungan sebagai bagian dari nilai-nilai Pancasila.
- Konsep kewarganegaraan aktif yang
mendorong siswa untuk berperan serta dalam menyelesaikan masalah di
masyarakat.
- Konsep eco literacy (melek lingkungan):
pentingnya menjaga bumi demi keberlanjutan generasi mendatang.
Kaitannya dengan Kehidupan
Sehari-hari:
- Siswa memahami bahwa membantu sesama dan
menjaga lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab sebagai warga
negara.
- Siswa belajar bahwa cinta tanah air bukan hanya
melalui upacara, tapi juga melalui aksi nyata dan kepedulian sosial.
- Siswa belajar mengaitkan nilai-nilai dalam
pelajaran PKn, IPS, IPA, dan Agama dengan praktik hidup bersama.
3. Pengetahuan PROSEDURAL
Isi Materi:
- Langkah-langkah menyusun kegiatan bakti sosial:
- Identifikasi masalah sosial di lingkungan
sekitar.
- Menyusun rencana kegiatan (misal: penggalangan
donasi, bersih-bersih, kunjungan).
- Pelaksanaan dan dokumentasi kegiatan sosial.
- Langkah-langkah melaksanakan eco campaign:
- Menentukan isu lingkungan yang diangkat
(misal: plastik, air bersih, pemanasan global).
- Menyusun kampanye: membuat poster, video
pendek, kampanye digital, pameran sekolah.
- Melaksanakan kampanye dan menyampaikan pesan
lingkungan ke warga sekolah.
- Teknik komunikasi efektif, presentasi publik,
serta etika kerja kelompok dan kerja sosial.
Kaitannya dengan Kehidupan
Sehari-hari:
- Siswa belajar bekerja sama dalam kelompok untuk
menjalankan proyek sosial atau lingkungan.
- Siswa mendapatkan pengalaman mengorganisasi
kegiatan nyata yang berdampak pada lingkungan sekitar.
- Siswa melatih keterampilan komunikasi,
kolaborasi, tanggung jawab, dan kepemimpinan.
4. Pengetahuan METAKOGNITIF
Isi Materi:
- Refleksi atas pengalaman pribadi dalam
berkontribusi untuk orang lain dan lingkungan.
- Kesadaran atas potensi diri untuk menjadi agen
perubahan di lingkungan sekitar.
- Strategi belajar melalui observasi, wawancara,
riset masalah sosial-lingkungan.
- Kesadaran terhadap sikap tidak peduli,
individualisme, atau konsumtif yang bisa merusak lingkungan dan hubungan
sosial.
- Evaluasi efektivitas kegiatan: apakah sudah
berdampak dan bisa dikembangkan lebih lanjut?
Kaitannya dengan Kehidupan
Sehari-hari:
- Siswa mengevaluasi peran dan kontribusinya
dalam kelompok serta dalam komunitas.
- Siswa mampu menyusun rencana pribadi untuk ikut
serta dalam aksi sosial atau kampanye lingkungan di luar sekolah.
- Siswa belajar dari kesalahan, mengembangkan
ide-ide baru, dan terus merefleksikan nilai-nilai cinta tanah air dan
peduli sesama.
Kesimpulan Umum
Kegiatan Aksi Nyata Cinta Tanah Air: Bakti Sosial
& Eco Campaign mengembangkan keempat jenis pengetahuan secara
terpadu:
- Faktual: Menambah pengetahuan
dasar tentang persoalan sosial dan lingkungan serta bentuk-bentuk aksi
nyata.
- Konseptual: Menanamkan
nilai-nilai cinta tanah air, solidaritas, dan kesadaran lingkungan.
- Prosedural: Melatih siswa dalam
merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi kegiatan sosial dan kampanye
lingkungan.
- Metakognitif: Menumbuhkan kesadaran
reflektif, empati, dan komitmen sebagai warga negara yang aktif dan
peduli.
|
|
Dimensi
Profil Lulusan (DPL)
|
Pilihlah
dimensi profil lulusan yang akan dicapai dalam pembelajaran
|
|
|
|
DPL
1
Keimanan dan ketakwaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa
DPL 2
Kewargaan
DPL 3
Penalaran Kritis
DPL 4
Kreativitas
|
DPL 5
Kolaborasi
DPL
6
Kemandirian
DPL
7
Kesehatan
DPL 8
Komunikasi
|
|
|
DESAIN PEMBELAJARAN
|
Lintas
Disiplin Ilmu
|
1. Pendidikan
Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn)
- Materi Terkait:
Gotong royong, solidaritas sosial, hak dan kewajiban sebagai warga
negara, nilai persatuan dan cinta tanah air.
- Kontribusi: Membentuk sikap
tanggung jawab sosial dan cinta tanah air melalui aksi nyata berbagi dan
peduli lingkungan.
- Aktivitas: Diskusi nilai-nilai
sosial dalam bakti sosial, membuat poster hak dan kewajiban warga dalam
menjaga lingkungan, menyusun refleksi nilai gotong royong yang dilakukan
selama kegiatan.
2. Bahasa
Indonesia
- Materi Terkait:
Menulis teks laporan kegiatan, teks pidato ajakan (persuasif), puisi
bertema cinta tanah air, wawancara.
- Kontribusi: Melatih keterampilan
komunikasi tulis dan lisan dalam menyampaikan ide, ajakan, dan refleksi
tentang aksi sosial dan lingkungan.
- Aktivitas: Menulis pidato ajakan
Eco Campaign, menyusun laporan kegiatan bakti sosial, menulis puisi
tentang kepedulian terhadap sesama dan bumi.
3. Ilmu
Pengetahuan Sosial (IPS)
- Materi Terkait:
Permasalahan sosial di masyarakat, pembangunan berkelanjutan,
pengelolaan sumber daya, peran warga dalam kehidupan sosial.
- Kontribusi: Memahami kondisi
masyarakat dan pentingnya tindakan nyata dalam membantu sesama serta
menjaga lingkungan hidup.
- Aktivitas: Observasi masalah
sosial di sekitar sekolah, membuat peta masalah sosial dan lingkungan,
diskusi tentang dampak sosial dari kegiatan berbagi dan peduli
lingkungan.
4. IPA (Ilmu
Pengetahuan Alam)
- Materi Terkait:
Daur ulang, pengelolaan sampah, ekosistem, konservasi energi dan sumber
daya alam.
- Kontribusi: Meningkatkan
kesadaran lingkungan dan mendorong tindakan ramah lingkungan melalui
pengetahuan ilmiah.
- Aktivitas: Membuat alat daur
ulang sederhana, demonstrasi pembuatan eco-enzyme, kampanye hemat energi
di lingkungan sekolah.
5. Informatika
- Materi Terkait:
Literasi digital, presentasi digital, kampanye melalui media sosial,
desain grafis sederhana.
- Kontribusi: Mengembangkan
keterampilan teknologi untuk menyuarakan kepedulian dan menyebarkan
pesan positif melalui media digital.
- Aktivitas: Membuat poster
digital Eco Campaign, mendesain konten untuk media sosial
(video/infografis kampanye), membuat blog kecil tentang aksi sosial.
6. Seni Budaya
- Materi Terkait:
Seni pertunjukan bertema nasionalisme, desain visual untuk kampanye,
lagu dan drama bertema sosial.
- Kontribusi: Menguatkan semangat
berbagi dan cinta tanah air melalui ekspresi seni kreatif.
- Aktivitas: Membuat mural “Cinta
Tanah Air”, pementasan drama pendek tentang kepedulian sosial,
menciptakan lagu kampanye kebersihan lingkungan.
|
|
Tujuan
Pembelajaran
|
1. Siswa
mampu menjelaskan makna berbagi dan peduli sebagai wujud cinta tanah air
secara lisan atau tulisan.
2. Siswa
mampu mengidentifikasi masalah sosial dan lingkungan di sekitar sekolah atau
masyarakat.
3. Siswa
mampu merancang kegiatan bakti sosial dan kampanye lingkungan secara
berkelompok.
4. Siswa
mampu menyampaikan gagasan dalam bentuk poster, pidato, atau media digital
untuk mendukung aksi sosial dan kampanye lingkungan.
5.
Siswa mampu merefleksikan nilai-nilai gotong royong,
kepedulian, dan tanggung jawab sosial setelah melaksanakan kegiatan.
|
|
Topik
Pembelajaran
|
Topik 1: Makna Cinta Tanah
Air dalam Kehidupan Sehari-hari
- Fokus: Mengenali bentuk kepedulian sosial dan
lingkungan sebagai wujud cinta tanah air.
- Aktivitas: Diskusi kelompok dan
studi kasus tentang contoh nyata di sekitar siswa.
Topik 2: Mengenali Masalah
Sosial dan Lingkungan di Sekitar Kita
- Fokus: Mengidentifikasi permasalahan sosial dan
lingkungan di lingkungan sekolah dan masyarakat.
- Aktivitas: Observasi lapangan,
wawancara sederhana, dan pencatatan temuan.
Topik 3: Perencanaan Aksi
Nyata: Dari Ide ke Tindakan
- Fokus: Merancang kegiatan bakti sosial dan eco
campaign yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi lokal.
- Aktivitas: Membuat proposal
sederhana kegiatan secara berkelompok.
Topik 4: Komunikasi
Persuasif untuk Aksi Sosial dan Lingkungan
- Fokus: Menyampaikan pesan melalui media (poster,
pidato, video singkat, slogan) untuk mengajak orang peduli.
- Aktivitas: Menulis pidato,
membuat poster, dan latihan presentasi kampanye.
Topik 5: Refleksi dan
Evaluasi: Apa yang Telah Aku Berikan untuk Negeri Ini
- Fokus: Merefleksikan pengalaman, tantangan, dan
nilai-nilai yang dipelajari selama kegiatan.
- Aktivitas: Menulis jurnal
refleksi dan berbagi cerita dalam forum kelas.
|
|
Praktik
Pedagogis
|
Model Pembelajaran: Project-Based Learning (PjBL)
- Alasan: Mendorong siswa berpikir kritis dan kreatif
melalui perancangan dan pelaksanaan proyek nyata seperti bakti sosial
dan kampanye lingkungan.
- Keterkaitan Dimensi:
- Penalaran Kritis:
Menganalisis masalah sosial dan lingkungan.
- Kreativitas: Mendesain media
kampanye dan solusi aksi nyata.
- Komunikasi: Menyampaikan pesan
dalam kampanye secara efektif.
Strategi Pembelajaran: Kolaboratif dan Reflektif
- Alasan: Memfasilitasi kerja kelompok yang
berkesadaran sosial serta refleksi diri terhadap makna aksi yang
dilakukan.
- Implementasi:
- Diskusi kelompok lintas latar belakang sosial.
- Refleksi jurnal pribadi atau vlog harian
selama proyek.
Metode Pembelajaran:
- Studi Kasus:
- Siswa mempelajari permasalahan nyata di
sekitar sekolah/masyarakat (misal: sampah, kesenjangan sosial).
- Diskusi Kelompok Terarah:
- Menggali solusi bersama berdasarkan pengalaman
dan pemikiran kritis.
- Role Play / Simulasi:
- Mengasah empati dan keterampilan komunikasi
dalam peran sebagai aktivis, relawan, atau tokoh masyarakat.
- Pameran Aksi Sosial & Eco Campaign:
- Siswa menampilkan karya dan kampanye mereka
dalam bentuk yang menggembirakan (panggung aksi, mural, stan edukatif).
- Refleksi Terpandu:
- Menyadari makna kontribusi pribadi terhadap
lingkungan dan sesama.
|
|
Kemitraan
Pembelajaran
|
1. Komite Sekolah dan Orang Tua Siswa
- Peran: Dukungan logistik, donasi, pendampingan
kegiatan, promotor nilai gotong royong.
- Kolaborasi: Membantu mobilisasi
sumber daya dan menjadi mitra edukasi karakter peduli.
2. Kelurahan/RT/RW Setempat
- Peran: Memberi izin lokasi kegiatan bakti sosial
atau kampanye lingkungan di wilayah mereka.
- Kolaborasi: Fasilitator kegiatan
masyarakat (pembersihan lingkungan, distribusi bantuan).
3. Puskesmas atau Lembaga Kesehatan Lokal
- Peran: Memberikan penyuluhan kesehatan, sanitasi,
atau bantuan medis dalam kegiatan sosial.
- Kolaborasi: Edukasi gaya hidup
bersih dan sehat, serta pemilahan sampah rumah tangga.
4. Dinas Lingkungan Hidup / DLH Kota Malang
- Peran: Penyuluhan tentang Eco Campaign, bank sampah,
dan gerakan pelestarian lingkungan.
- Kolaborasi: Penyediaan materi
kampanye dan dukungan teknis aksi lingkungan.
5. NGO / Komunitas Peduli Sosial & Lingkungan
(contoh: Malang Bersih, Greeneration Indonesia, Sekolah Alam, Rumah Zakat)
- Peran: Menjadi narasumber, mentor aksi sosial, dan
media kolaborasi siswa.
- Kolaborasi: Pembinaan siswa dalam
merancang dan menyampaikan kampanye sosial & lingkungan.
6. UMKM / Pasar Tradisional Lokal
- Peran: Menyediakan produk donasi, edukasi
kewirausahaan sosial, atau ruang promosi kampanye siswa.
- Kolaborasi: Sarana siswa belajar
empati ekonomi dan pengelolaan donasi.
7. Perusahaan / Dunia Usaha (CSR Corporate)
- Peran: Donasi barang atau dana, menyediakan media
publikasi kampanye siswa.
- Kolaborasi: Program CSR
lingkungan atau sosial (misal: penanaman pohon, sembako murah).
8. Media Lokal (Radio, Surat Kabar, Instagram
komunitas lokal)
- Peran: Menyebarkan pesan kampanye siswa.
- Kolaborasi: Publikasi kegiatan
siswa sebagai bagian dari literasi digital dan komunikasi publik.
|
|
Lingkungan
Pembelajaran
|
1. Lingkungan Fisik
Deskripsi: Tempat nyata yang memungkinkan
siswa belajar secara langsung melalui pengalaman konkret.
Pilihan:
- Ruang Kelas
Sebagai tempat perencanaan, diskusi, dan refleksi kegiatan bersama.
- Halaman Sekolah / Taman Sekolah
Untuk praktik kampanye lingkungan (Eco Campaign), pembuatan poster,
mural, atau aksi kebersihan.
- Ruang Perpustakaan dan Ruang Multimedia
Untuk menggali informasi, riset tentang sosial-lingkungan, dan membuat
konten kampanye digital.
- Lingkungan Sekitar Sekolah / RW / Panti Asuhan
/ Pasar
Sebagai lokasi implementasi aksi nyata bakti sosial dan interaksi lintas
masyarakat.
- Bank Sampah atau Mitra Lingkungan Hidup
Untuk belajar tentang daur ulang, pemilahan sampah, dan nilai ekonomi
dari barang bekas.
2. Lingkungan Sosial dan Budaya Belajar
Deskripsi: Iklim belajar yang
mencerminkan nilai-nilai kemerdekaan, kepedulian, dan kolaborasi.
Ciri-ciri Budaya Belajar
yang Diciptakan:
- Inklusif dan Kolaboratif
Menghargai semua latar belakang siswa dan mendorong mereka untuk bekerja
sama, berbagi ide, serta mendukung perbedaan.
- Berorientasi Nilai dan Aksi Nyata
Fokus pada kepedulian sosial dan lingkungan sebagai bentuk cinta tanah
air yang diwujudkan dalam tindakan konkret.
- Menggembirakan dan Memberdayakan
Proses pembelajaran dirancang menyenangkan, menumbuhkan kepercayaan
diri, serta ruang bebas berkreasi.
- Reflektif dan Kritis
Membiasakan siswa untuk berpikir kritis terhadap isu sosial-lingkungan
di sekitarnya dan memberikan solusi nyata.
- Berjejaring dan Terbuka
Mendorong siswa belajar dari masyarakat, mitra luar, dan membangun
jejaring komunikasi yang sehat dan produktif.
|
|
Pemanfaatan
Digital
|
1. Canva & Google Slides
– untuk Kampanye Digital
Tujuan: Membuat
poster, infografis, atau presentasi kampanye lingkungan dan sosial.
Manfaat:
- Interaktif: siswa mendesain secara visual.
- Kolaboratif: dapat dikerjakan bersama dalam
tim.
- Kontekstual: berisi pesan yang menyuarakan aksi
nyata di lingkungan sekitar.
2. Padlet atau Jamboard –
untuk Kolaborasi Ide & Dokumentasi Proyek
Tujuan:
Brainstorming ide bakti sosial dan eco campaign serta dokumentasi proses
kegiatan.
Manfaat:
- Interaktif: siswa saling menanggapi ide.
- Kolaboratif: terbuka untuk kontribusi lintas
kelompok.
- Kontekstual: langsung merefleksikan isu dan
potensi di lingkungan sekolah dan masyarakat.
3. YouTube/Instagram/Reels
Sekolah – untuk Publikasi Aksi Nyata
Tujuan:
Mempublikasikan hasil proyek (video kampanye, kegiatan sosial) agar berdampak
lebih luas.
Manfaat:
- Interaktif: membuka ruang komentar atau
tanggapan.
- Kolaboratif: siswa bekerja sebagai tim kreatif
(script, editor, narator, dsb).
- Kontekstual: menyampaikan pesan
sosial-lingkungan yang relevan dengan kondisi lokal SMPN 8 Malang.
|
|
PENGALAMAN BELAJAR
|
AWAL (tuliskan
prinsip pembelajaran yang digunakan, misal berkesadaran, bermakna,
menggembirakan)
|
|
Langkah-Langkah Pembuka Pembelajaran
1. Orientasi yang Bermakna (5 menit)
- Guru membuka dengan salam hangat dan
menunjukkan video pendek tentang kegiatan bakti sosial dan eco campaign
di lingkungan kota (bisa dari YouTube lokal atau dokumentasi sekolah).
- Tujuan: Menyentuh emosi dan empati peserta
didik sejak awal.
2. Apersepsi Kontekstual (5–7 menit)
- Guru mengajukan pertanyaan pemantik:
- "Apa yang kalian rasakan jika melihat
anak-anak tak bisa sekolah karena keterbatasan ekonomi?"
- "Pernahkah kalian melihat tumpukan sampah
di selokan dekat rumah atau sekolah kita?"
- Siswa diajak menghubungkan pengalaman pribadi
dengan isu sosial dan lingkungan sekitar mereka di Malang.
3. Motivasi yang Menggembirakan (3–5 menit)
- Guru menjelaskan bahwa melalui kegiatan hari
ini, mereka akan menjadi agen perubahan yang nyata melalui bakti
sosial dan kampanye lingkungan.
- Guru membagikan pin digital/logo tim aksi
atau kata penyemangat, seperti:
“Hari ini kita bukan hanya belajar, tapi membuat
perubahan untuk Indonesia!”
Langkah pembuka ini akan membuat siswa:
- merasa dihargai dan diperhatikan,
- tertarik dan siap berpikir kritis,
- bersemangat mengikuti pembelajaran dengan rasa
bangga dan peduli.
|
|
INTI
|
|
Pada tahap
ini, siswa aktif terlibat dalam pengalaman belajar memahami, mengaplikasi,
dan merefleksi. Guru menerapkan prinsip pembelajaran berkesadaran, bermakna,
menyenangkan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Pengalaman belajar tidak
harus dilaksanakan dalam satu kali pertemuan.
|
|
Memahami (Bermakna,
Berkesadaran)
|
|
1.
Memahami (45 menit)
Tujuan: Murid
mengenali masalah sosial dan lingkungan, memahami makna berbagi dan peduli
dalam konteks kebangsaan dan lingkungan.
Kegiatan:
- Observasi
dan Diskusi Gambar/Video (10 menit)
- Menonton
video singkat tentang dampak kemiskinan dan pencemaran lingkungan di
sekitar mereka.
- Guru
memberikan pertanyaan panduan:
- Apa
masalah utama yang kalian lihat?
- Mengapa
hal ini penting untuk kita pedulikan?
- Diskusi
Kelompok Kecil (20 menit)
- Siswa
dibagi menjadi 4–5 kelompok untuk menganalisis isu yang muncul
(menggunakan lembar kerja pemantik).
- Tugas:
Temukan akar masalah dan buat peta masalah sosial/lingkungan
di sekitarmu.
- Presentasi
Cepat & Tanya Jawab (15 menit)
- Setiap
kelompok menyampaikan 1 masalah utama dan penyebabnya.
- Kelas
memberikan umpan balik (latih komunikasi kritis dan kolaboratif).
Prinsip
mindful: siswa diajak hadir utuh terhadap isu nyata.
Prinsip meaningful: siswa merasa masalah tersebut dekat dengan
kehidupan mereka.
|
|
Mengaplikasi
(Menggembirakan)
|
|
2.
Mengaplikasi (60 menit)
Tujuan: Murid menyusun solusi kreatif melalui simulasi aksi
sosial dan kampanye lingkungan.
Kegiatan:
- Desain Aksi Nyata (30 menit)
- Siswa memilih 1 bentuk aksi:
- a) Bakti sosial (contoh:
“Kotak Amal Berjalan”, “Gerakan Pangan Sehat Gratis”)
- b) Eco Campaign (contoh:
“Jangan Buang Sampah ke Selokan!”, “1 Siswa 1 Tanaman”, “Poster
Digital Peduli Sampah”)
- Gunakan format canva,
padlet, atau lembar poster manual.
- Kolaborasi kelompok dan
pembagian peran.
- Simulasi Presentasi (15 menit)
- Setiap kelompok
mempresentasikan konsep aksi sosial atau kampanye mereka.
- Gunakan gaya komunikasi
publik: poster, video, slogan, atau orasi.
- Pameran Mini & Voting (15 menit)
- Siswa melakukan “Walk
Gallery” di kelas untuk melihat karya teman.
- Masing-masing memberi stiker
bintang untuk karya yang paling berdampak dan kreatif.
Prinsip
joyful: kegiatan
seru, bebas berekspresi, dan saling mengapresiasi.
Prinsip meaningful: murid menjadi perancang solusi nyata.
Keterampilan dikembangkan: kolaborasi, berpikir solutif, komunikasi
terbuka.
|
|
Merefleksi (Berkesadaran)
|
|
3. Merefleksi (30 menit)
Tujuan: Murid
menyadari nilai-nilai yang telah mereka pelajari dan menyusun rencana kecil
untuk aksi nyata di lingkungan mereka.
Kegiatan:
- Jurnal Refleksi Individu (15 menit)
Pertanyaan reflektif:
- Apa satu hal baru yang kamu pelajari hari ini?
- Apa perasaanmu setelah ikut kegiatan ini?
- Aksi nyata apa yang bisa kamu lakukan mulai
besok?
- Berbagi Cerita Refleksi (10 menit)
- Beberapa siswa diminta secara sukarela
membacakan isi jurnalnya.
- Guru memberikan penguatan dan apresiasi
terhadap nilai kepedulian dan kebangsaan.
- Penutup & Tantangan Aksi Nyata (5 menit)
- Guru menutup dengan kutipan motivasi dan
menantang siswa untuk melakukan aksi individu selama seminggu,
misalnya:
“1 Siswa, 1 Aksi: Pilih satu hal kecil yang bisa
kamu lakukan minggu ini untuk membantu orang lain atau lingkunganmu!”
|
|
PENUTUP (berkesadaran,
bermakna) 5
menit
|
|
1. Refleksi Materi (5 menit)
Guru memandu siswa melakukan refleksi dengan
pertanyaan terbuka:
- Apa yang kamu pahami tentang makna “merdeka
berbagi” dan “merdeka peduli” hari ini?
- Mengapa aksi sosial dan kampanye lingkungan itu
penting bagi bangsa dan lingkungan kita?
- Dari semua kegiatan hari ini, bagian mana yang
paling menyentuh atau menginspirasi kamu?
Siswa bisa menjawab secara
lisan atau menulis 2–3 kalimat di kartu refleksi.
2. Refleksi Akhir Pembelajaran
(3 menit)
Guru menyampaikan rangkuman inti:
“Hari ini kita belajar menjadi anak bangsa yang tak
hanya bangga, tapi juga bertindak nyata. Kita melihat masalah sosial dan
lingkungan, lalu mencari solusi dan berani menyuarakannya. Itulah bentuk
cinta tanah air yang sejati.”
3. Motivasi Penutup (2
menit)
Guru memberi penguatan dan harapan:
“Kalian adalah generasi yang hebat. Jangan tunggu
dewasa untuk peduli. Satu aksi kecil yang kamu lakukan bisa membawa perubahan
besar. Mari jadi anak Indonesia yang merdeka dalam berpikir, berbagi, dan
peduli.”
4. Tugas Pertemuan Berikutnya (5 menit)
Tugas Individu (dibawa ke
pertemuan selanjutnya):
- Buatlah “Catatan Aksi Nyataku” berupa:
- Nama aksi yang kamu lakukan di
lingkungan rumah atau sekolah (misalnya: membantu tetangga,
membersihkan taman, membagikan makanan, membuat poster, dll.)
- Cerita singkat (3–5 kalimat) tentang apa yang
kamu lakukan dan rasakan
- Foto/video (jika memungkinkan)
Tugas dikumpulkan minggu depan dalam bentuk kertas
tempel atau unggahan digital di platform kelas.
|
|
ASESMEN PEMBELAJARAN
|
Asesmen awal
|
Tujuan Asesmen Awal
Mengetahui:
- Pengetahuan awal siswa tentang aksi sosial dan
kampanye lingkungan
- Pengalaman pribadi terkait kepedulian sosial
dan lingkungan
- Nilai dan sikap siswa terhadap semangat
kebangsaan dan kepedulian
Jenis & Bentuk Instrumen
|
Komponen
|
Keterangan
|
|
Jenis Asesmen
|
Diagnostik (formatif awal)
|
|
Bentuk Instrumen
|
Angket/kuesioner reflektif
dengan skala dan isian singkat
|
|
Media
|
Google Form, kertas, atau
buku catatan siswa
|
Instrumen Asesmen Awal (5
Butir)
- (Skala Sikap)
Saya merasa peduli ketika
melihat orang lain kesulitan atau lingkungan kotor dan rusak.
- ☐
Sangat Setuju
- ☐
Setuju
- ☐
Tidak Setuju
- ☐
Sangat Tidak Setuju
- (Pertanyaan Terbuka Singkat)
Sebutkan satu bentuk aksi
sosial yang pernah kamu lakukan atau lihat di sekitarmu!
- (Skala Pengetahuan)
Menurutmu, apakah kampanye
lingkungan (eco campaign) penting bagi masa depan Indonesia?
- ☐
Sangat Penting
- ☐
Penting
- ☐
Kurang Penting
- ☐
Tidak Penting
- (Isian Pribadi)
Jika kamu diberi kesempatan
untuk berkontribusi pada kegiatan sosial, apa yang ingin kamu lakukan dan
mengapa?
- (Skala Kepedulian)
Saya bersedia bekerja sama
dengan teman-teman untuk melakukan aksi nyata membantu masyarakat dan
lingkungan.
- ☐
Sangat Setuju
- ☐
Setuju
- ☐
Tidak Setuju
- ☐
Sangat Tidak Setuju
|
|
Asesmen proses Pembelajaran
|
Tujuan Asesmen Formatif
- Menilai keberlangsungan proses pembelajaran
- Memberikan umpan balik terhadap pemahaman,
sikap, keterampilan, dan kolaborasi siswa
- Mengarahkan guru dalam penguatan atau
penyesuaian strategi pembelajaran
Jenis & Bentuk Instrumen
|
Komponen
|
Keterangan
|
|
Jenis
Asesmen
|
Formatif (selama proses
pembelajaran)
|
|
Bentuk
Instrumen
|
Observasi langsung,
pertanyaan reflektif, rubrik ceklis sederhana
|
|
Waktu
Pelaksanaan
|
Saat diskusi kelompok,
saat presentasi, dan refleksi individu
|
3 Bentuk Instrumen Asesmen
Formatif
1. Ceklis Observasi Diskusi
Kelompok
Digunakan guru saat siswa
berdiskusi tentang ide kegiatan bakti sosial atau kampanye lingkungan.
|
No
|
Indikator
|
Ya
|
Tidak
|
Catatan
|
|
1
|
Siswa aktif menyampaikan
ide dalam diskusi
|
☐
|
☐
|
|
|
2
|
Siswa mendengarkan
pendapat teman dengan baik
|
☐
|
☐
|
|
|
3
|
Siswa menunjukkan sikap
peduli terhadap isu
|
☐
|
☐
|
|
2. Refleksi Tengah
Pembelajaran (Tulisan Singkat)
Instrumen:
Apa yang saya pelajari hari
ini tentang pentingnya aksi sosial dan lingkungan?
Apa yang membuat saya tertarik atau bingung?
Dapat dikumpulkan dalam
catatan belajar siswa atau Google Form.
3. Tanya-Jawab Format Kartu
Tanya Singkat (Exit Ticket)
Contoh pertanyaan di akhir
sesi 2 atau sesi 3:
Sebutkan satu bentuk
kegiatan nyata yang menurutmu bisa membuktikan rasa cinta tanah air!
Apa satu hal kecil yang bisa kamu lakukan di sekolah untuk menjaga
lingkungan?
|
|
Asesmen akhir pembelajaran
|
Tujuan Asesmen Sumatif:
Mengetahui sejauh mana peserta didik:
- Memahami konsep cinta tanah air melalui aksi
sosial dan kampanye lingkungan.
- Mampu merancang dan menyampaikan ide aksi nyata
secara kreatif dan komunikatif.
- Menunjukkan sikap peduli, kolaboratif, dan
bertanggung jawab dalam kegiatan.
Jenis dan Bentuk Instrumen:
|
Komponen
|
Penjelasan
|
|
Jenis Asesmen
|
Sumatif
|
|
Bentuk Instrumen
|
Unjuk kerja proyek, portofolio, dan tes uraian
reflektif sederhana
|
|
Waktu Pelaksanaan
|
Di akhir proses pembelajaran atau setelah kegiatan
aksi nyata dilakukan
|
Bentuk Instrumen Asesmen
1. Proyek Mini (Unjuk Kerja)
Tugas:
Buatlah poster digital atau presentasi
singkat berisi ide dan rencana pelaksanaan Bakti Sosial atau Eco
Campaign yang dapat dilaksanakan di sekolah atau lingkungan sekitar.
Disajikan dalam bentuk:
- Infografis / poster digital
- Video pendek kampanye (maks. 1 menit)
- Presentasi kelompok (maks. 5 menit)
Rubrik Penilaian Unjuk Kerja:
|
Aspek yang Dinilai
|
Skor 4 (Sangat Baik)
|
Skor 3 (Baik)
|
Skor 2 (Cukup)
|
Skor 1 (Kurang)
|
|
Kreativitas ide
|
Orisinal dan inspiratif
|
Ide menarik
|
Ide biasa saja
|
Tidak jelas
|
|
Relevansi isi
|
Sangat sesuai tema
|
Cukup sesuai
|
Sebagian sesuai
|
Tidak sesuai
|
|
Kerja sama kelompok
|
Selalu aktif dan kompak
|
Kadang aktif
|
Kurang aktif
|
Tidak berperan
|
|
Cara menyampaikan
|
Jelas, percaya diri
|
Cukup jelas
|
Kurang jelas
|
Tidak jelas
|
2. Refleksi Individu (Tes Uraian Ringan)
Tugas: Jawab pertanyaan reflektif berikut:
- Apa makna cinta tanah air menurutmu setelah
mengikuti pembelajaran ini?
- Apa bentuk aksi sosial sederhana yang bisa kamu
lakukan di lingkunganmu?
- Bagaimana perasaanmu setelah merancang dan
membagikan ide kampanye ini?
- Menurutmu, apa tantangan dalam mengajak orang
peduli lingkungan?
- Apa hal baru yang kamu pelajari dan ingin kamu
lanjutkan setelah kegiatan ini?
3. Portofolio Ringkas
Dokumentasi proses belajar, seperti:
- Foto kegiatan diskusi/pembuatan proyek
- Poster ide atau rancangan kampanye
- Catatan refleksi harian / mingguan
|
|
Asesmen
dalam pembelajaran mendalam disesuaikan dengan assessment as learning,
assessment for learning, dan assessment of learning. Tentukan metode atau
cara yang digunakan secara komprehensif untuk mengukur pencapaian kompetensi
peserta didik. Contoh: Tes tertulis, Tes lisan, Penilaian Kinerja, Penilaian
Proyek, Penilaian Produk, Observasi, Portofolio, Peer Assessment, Self
Assessment, penilaian berbasis kelas, dan sebagainya.
|
|
|
|
|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar