Kerinduan yang Kupeluk Diam-Diam
Di antara detak jam yang lupa berhenti,
namamu berlayar di benakku,
seperti doa yang tak pernah selesai kusebutkan
dalam sunyi paling jujur.
Aku merindukanmu
dengan cara yang sederhana namun dalam—
seperti langit merindukan senja,
tanpa suara, tanpa janji,
namun setia menunggu warna pulang.
Pada malam,
rindu menjelma angin
yang menyentuh jendela hatiku pelan-pelan,
membawa bayang senyummu
yang selalu tahu cara menenangkan.
Kekasih,
jarak hanyalah ujian bagi sabar,
bukan penentu bagi rasa.
Sebab cintaku tak pernah belajar lelah,
ia tumbuh justru saat tak bisa menyentuhmu.
Jika kelak waktu berbaik hati,
biarlah rinduku sampai lebih dulu,
memelukmu sebelum aku sempat berkata apa-apa—
bahwa di setiap jeda napasku,
ada namamu yang selalu kupanggil pulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar